merekalah, “QABIDHATUL JAMRI”

Bismillahi dzul mahabbati wa rahmah

Alhamdulillah, beribu rasa syukur hanya di persembahkan kepada Ilahi Rabbi, rabb semesta alam, dzat yang berhak atas segala perkara, dan Maha berkehendak atas segala urusan. Tidak ada kata yang pantas keluar dari lisan seorang muslim kecuali rasa syukur tersebut… dan semoga kita semua termasuk golongan hamba Alloh yang senantiasa bersyukur, bukan golongan yang kufur akan nikmatnya. Aamiin….

Shalawat beriringkan salam semoga tidak pernah alpa tercurahkan kepada manusia mulia, putra padang pasir, sang panglima perang terhebat sepanjang masa, suri tauladan terhebat bagi para umat manusia. Karena atas perjuangan besar beliau kita dapat merasakan begitu manisnya cahaya islam ini.

Yahh…. Kali ini saya akan berbagi tulisan sederhana mengenai perjuangan islam. Walaupun sebelumnya sempat buntu mau berbagi tulisan apa buat semuanya.

Renungi hadits Nabi yang satu ini yuk “sesungguhnya islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing. Maka berbahagialah bagi para ghuraba’, lalu Rasululloh ditanya siapakah para ghuraba’ tersebut? Merekahlah yang membuat perubahan tatkala manusia berbuat kerusakan. Perlu kita pahami Bersama bahwa keadaan pada masa yang disebutkan oleh Rasululloh dalam haditsnya benar telah terjadi. Begitu banyaknya manusia bahkan yang mengaku muslim dan umat nabi Muhammad namun yang mereka melakukan banyak kerusakan di muka bumi dengan tangan mereka sendiri yang tanpa sadar hanya akan merugikan diri mereka sendiri. Namun tak dapat dipungkiri bahwasanya disamping itu semua masih ada segolongan orang yang melakukan perubahan terhadap umat islam, merekalah yang dengan tsiqqahnya mengamalkan setiap ajaran syariat lantas berjuang mengajarkan, mengajak umat menuju jalan yang haq. Mereka itulah golongan yang teguh menggenggam sunnah-sunnah nabi, karena mereka yakin menjalankannya adalah sebuah sebab datangnya Barakah yang sangat besar, dan mendatangkan cinta Alloh, mereka istiqamah dimana orang lain merasa berat untuk menjalankannya. Mereka itulah yang datang dengan misi yang besar, misi iqamatuddin, amar ma’ruf dan nahyi munkar. Mereka itulah umat nabi Muhammad yang disebutkan sebagai “qobidhatul jamri” sang pemegang bara api. Sepanas apapun bara itu, namun syariat islam tetaplah harus di pegang erat. Tanpa takut kesengsaraan, kesusahan, kesulitan, dan berbagai bahaya yang mengecam, karena mereka selalu yakin akan janji Alloh yang tidak perlu ditanya, janji Alloh yang benar-benar nyata adanay bagi hamba-hamba-Nya tersebut.

Saudaraku……. Saya mengajak diri saya sendiri dan juga kalian semua untuk Bersama berjalan dalam titihan jalan ini. Bersama berjalan dan ikut mengajak yang lain…

Sehampar malam  desa pilang, Masaran, Sragen, hidayaturrahman Islamic university…

“ISLAM YANG UNIVERSAL DAN TUJUANNYA”

Alloh mengutus nabi Muhammad dengan ajaran yang universal dan komprehensif. Dengan islam manusia akan hidup secara mula, sempurna dan bermartabat. Kurang lebih 23 tahun, Rasululloh berdakwah. Selama itu juga Islam telah disampaikan secara sempurna dan manusia berbondong-bondong memeluknya.

ISLAM YANG UNIVERSAL

Islam tidak dibatasi waktu dan juga tempat. Islam juga tidak diperuntukkan untuk generasi tertentu atau kaum tertentu., layaknya karakter agama-agama sebelumnya. Islam diturunkan untuk seluruh manusia hingga akhir zaman kelak. Alloh berfirman:

“dan kami tidak mengutus kamu (Muhammad) melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”(Q.S Saba’:28)

Dan dalam sebuah hadits disebutkan

“dahulu setiap Nabi diutus khusus untuk kaum tertentu sedangkan aku diutus untuk semuanya yang berkulit merah dan hitam”

 HAL-HAL YANG MEMPERKUAT UNIVERSALITAS DAN KOMPHREHENSIF ISLAM IALAH:

  1. AJARAN ISLAM MUDAH DIPAHAMI DAN DIAMALKAN

Alloh berfirman, “Alloh menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan untuk kalian” (Q.S.AL-Baqarah:185)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Sa’id Al-Maqbari, juga disebutkan bahwasannya Rasululloh bersabda,

إن هذا الدين يسر ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه

“agama islam ini mudah, tidakalah seorang mempersulit agama kecuali dia akan kalah”

أحب الين إلى الله الحنيفية و السمحة

“agama yang paling disulkai alloh adalah yang murni dan mudah”

  • AJARAN AGAMA YANG TIDAK BERUBAH DENGAN BERUBAHNYA TEMPAT DAN WAKTU, SEPERTI AQIDAH DAN IBADAH, DIJELASKAN OLEH ISLAM SECARA RINCI DISERTAI DALIL-DALILNYA

Jadi, tidak ada peluang untuk ditambah atau dikurangi. Sedangkan hala-hal yang bias berubah dengan berubahnya waktu dan tempat, seperti urusan agama yang berlandaskan asas manfaat atau urusan politik dan militer, maka dijelaskan secara global, agar bias mengikuti asas manfaat dari masa kemasa, dan para pemimpin bias menjadikannya sebagai parameter dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.

  • SEMUA AJARAN ISLAM BERTUJUAN MENJAGA AGAMA, JIWA, AKAL, KETURUNAN, DAN HARTA.

Tentu saja islam sesuai dengan fitrah, akal, perkembangan dan sesuai dengan segala zaman dan tempat.

(Q.S Al-A’raf: 32-33) dan (Q.S Al-A’raf: 156-157)

TUJUAN YANG INGIN DICAPAI OLEH ISLAM 

Tujuan yang ingin dicapai oleh islam adalah penyucian jiwa melalui pemahamaan yang benar tentang Alloh dan ibadah kepada-Nya. Tujuan lain adalah mempererat hubungan kemanusiaan yang dilandasi cinta kasigh, prsaudaraan, persamaan dan keadila. Sehingga manusia mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

FIQIH ATAU PERUNDANG-UNDANGAN ISLAM

Perundang-undangan islam atau fiqih adalah satu aspek penting dari ajaran islam. Aspek inilah yang mencerminkan sisi ilmiyyah ajaran islam. Permasalahan fiqih yang bersifat ibadah murni, seperti tata cara ibadah, bersumber hanya dari wahyu yang disampaikan dari Alloh kepada Nabi-Nya, baik berupa Al-Qur’an, hadits atau ijtihad yang ditetapkan. Dan tugas Rasululloh hanyalah menyampaikan dan menjelaskan apa yang diwahyukan kepadanya.

Sedangkan permasalahan fiqih yang berhubungan dengan urusan dunia, baik peradilan, politik atau militer, Rasululloh diperintahkan untuk meminta pertimbangan para sahabatnya. Tidak jarang beliau mengalah karena melihat pendapat pendapat para sahabat lebih baik., seperti yang terjadi di perang uhud dan badar.

kiprah dakwah wanita

Mulai dari awal, sejarah mencatat bahwa wanita memainkan peranan penting dalam tersebarnya kebenaran mendasar dari dakwah Islam. Dari pengorbanan Sumayyah r.a. yang diceritakan dalam hadits-hadits dari Aisyah r.a., wanitalah yang menolong kemajuan dan penyebaran agama Islam. Allah swt. juga meninggikan status dari dai dan memuji mereka dalam Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang-orang yang menyeru kepada Allah?” (QS. Fushilat ( 41) : 33).

Dakwah kepada agama Allah swt. adalah sebuah kewajiban atas setiap muslim dalam segala usia dan dalam waktu yang kita punyai, dakwah ini adalah penting dalam memberantas kejahatan-kejahatan serangan musuh-musuh Allah swt. yang sedang bertarung (dengan kita), dengan cara menggerakkan kembali pentingnya dakwah di hati kaum muslimin. Allah swt. tidak membatasi dakwah hanya kepada laki-laki saja tetapi menunjuk kepada seluruh umat Muhammad saw. ketika Allah swt. berfirman:

“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. An-Nahl (16) : 125).

Oleh karena itu wanita justru sama seperti laki-laki (dalam hal dakwah) yang seharusnya juga menyeru kepada (agama) Allah swt. dan memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah keburukan dengan jalan dan tata cara yang telah ditunjuk oleh syara. Pada masa Rasulullah Muhammad saw., wanita mengambil peranannya sebagai da’iyah yang serius. Diriwayatkan oleh Abu Sa’id r.a. bahwa wanita pernah mendatangi Rasulullah saw. dan mengatakan,

” Kaum laki-laki telah membuat Anda sibuk dan kita tidak memperoleh perhatian yang cukup dari Anda, sudikah Anda mengkhususkan sebuah hari untuk kita?” Beliau saw. kemudian menjanjikan kepada mereka sebuah hari khusus untuk pertemuan dengan mereka dan mengajar mereka. (HR.Al-Bukhari)  

Lebih lanjut Rasulullah saw. menegur orang-orang dengan mengatakan,”

Siapakah yang hadir di sini yang telah menyampaikan apa yang dia dengar kepada orang lain dan siapakah yang tidak hadir?” (HR. Bukhari)

Ini mengindikasikan bahwa sebaiknya melakukan pengajaran terhadap wanita (karena wanita tidak ikut dalam majelis tersebut), beliau memerintahkan kepada mereka untuk menyebarkan apa yang dia dengar.

Kita perhatikan fakta bahwa sejarah yang nyata telah memberikan kesaksian atas adanya para wanita yang memainkan peranan yang besar dalam menyampaikan Dinul Islam. Sumayyah r.a. memberikan hidupnya ketika Abu Jahal membunuhnya karena ia memeluk Islam. Dia adalah muslim pertama dari wanita yang syahid demi untuk agamanya. Khodijah r.a., istri pertama Muhammad saw. yang sangat kaya, telah membelanjakan seluruh uangnya untuk mendukung dakwah. Ummu Salamah r.a. rela meninggalkan suaminya dan melihat anak-anaknya dianiaya ketika dia hijrah. Ummu Imarah r.a. berperang mempertahankan Rasulullah saw. dalam perang Uhud.

Seseorang harus memahami penekanan akan kewajiban ini dan berbuat sebagaimana Rasulullah telah mencontohkannya bahwa Rasulullah saw. memerintahkan untuk menyampaikan Islam dan tidak tinggal diam serta pasif, sebagaimana Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam “Al-Kitab”, mereka itu dilaknati Allah…” (QS. Al Baqarah( 2) : 159).

Wallahu’alam bis showab!

💻MY FIRST BLOG💌

🤗أهلا وسهلا يا إخواني وأخواتي في الدّين

selamat datang di blog saya… semoga tulisan2 ini dapat memberi manfaat kepada para pembaca, saya berharap anda bisa memberikan kritik dan saran yang membangun untuk tulisan ini, jangan lupa like dan follow ya😊

“kehidupan kita tak akan lepas dari aktifitas ilmu, baik anda menjadi mu’allimnya (pengajar) atau menjadi muta’allimnya. karena pada hakikatnya tholabul ilmi bukan terbatas pada kegiatan formal di dalam kelas… anda dapat belajar dari buah hasil atau karya seseorang…

“semangat untuk selalu menyebarkan kebaikan”

Ali bin Abi Thalib berkata : semua orang akan mati, namun tulisannya akan terus ada, untuk itu tulislah sesuatu yang memberikan manfaat untukmu di akhirat”

Syukron…Jazakumulloh khoiron katsir💖

Radhiyatun Nisa’

Be yourself; Everyone else is already taken.

— Oscar Wilde.

This is the first post on my new blog. I’m just getting this new blog going, so stay tuned for more. Subscribe below to get notified when I post new updates.

Definisi dan Perbedaan antara Harga Dan Barang

Oleh: Radhiyatun Nisa’

Menurut kebanyakan madzhab hanafiyyah, barang dan harga adalah dua kata benda yang berlawanan. Masing-masing dari mereka memiliki makna sendiri-sendiri. Barang biasanya adalah sesuatu yang dapat ditentukan wujudnya. Imam al-Qurafi pun sepekat dengan pendapat mengenai istilah ini.

Adapun harga kebalikan dari makna barang, yaitu sesuatu yang biasanya tidak dapat ditentukan wujudnya. Atau sebagian ulama mendefinukan harga ialah suatu pengganti yang diberikan oleh pembeli untuk mendapatkan barang yang dijual atau sesuatu yang sama-sama telah disetujui oleh kedua belah pihak yang melakukan transaksi, baik harga itu lebih besar dari nilainya, kebih kecil, ataupun sama.

Dengan demikian sesuatu yang dapat ditentukan wujudnya bisa saja menjadi barang, seperti barang pada sebuah transaksi jual-beli. dan begitu juga, Sesuatu yang biasanya tidak dapat ditentukan wujudnya, maka bisa saja menjadi harga. Seperti modal yang diserahkan pada transaksi jual beli salam, apabila ia berupa barang yang berwujud. Maka dari itu, biasanya harga itu adalah sesuatu yang berupa utang yang harus ditanggung dan dibayar. Kaidah ini berlaku apabila harga itu berupa barang atau berupa barang lain yang sejenis, seperti gandum, minyak, serta barang-barang yang dapat ditakar, ditimbang, diukur, atau bilangan yang menyerupai.

Harga juga bisa berupa barang-barang yang bernilai, seperti hewan, pakaian, dan lain sebagainya. Ibnu Hammam dan ulama lain berpendapat bahwa pakaian bisa berfungsi ganda. Karena bisa berfungsi sebagai barang yang akan diserahkan nanti dengan sistem jual beli salam, juga bisa berfungsi sebagai utang yang akan diserahkan nanti atas dasar sebagai harga.

Imam Syafi’I dan Jafar menyatakan bahwa barang dan harga adalah kata benda sinonim yang memiliki satu makna. Hanya saja dibedakan dari sisi hukumnya. (badai shanai’ juz 5 hlm 26)

Perbedaan antara Barang dan Harga

Sesuatu yang dapat menjadi barang, maka bisa menjadi harga. Namun tidak setiap sesuatu yang dapat menjadi harga, bisa pula menjadi barang. Terkadang harga tidak berupa tanggungan yang harus dibayarkan atau diserahkan nanti, tetapi juga terkadang berupa barang tertentu yang bernilai, seperti hewan, kain, dan lain sebagainya, sebagaimana penjelasan di awal.

Berdasarkan kaidah ini, penting bagi kita untuk mengetahui perbedaan antara barang dan harga. Karena perbedaan ini memiliki implikasi-implikasi hukum perbedaan berlaku pada barang-barang yag digunakan untuk tukar menukar, yaitu uang tunai, barang-barang bernilai, dan barang-barang sejenis.

  1. Mata uang secara umum, baik emas maupun perak, atau mata uang yang berlaku dapat berfungsi sebagai harga, jika difungsikan sebagai alat penukar barang yang akan dibeli. Mayoritas ulama madzhab hanafiyyah berpendapat bahwa mata uang baik emas, perak, atau uang-uang ligam lainnya yang disebutkan sebagai harga dalam transaksi jual beli tidak harus sesuai dengan dengan yang disebutkan oleh penjual ketika uang itu diserahkan.

Akan tetapi kalangan syafi’iyyah dan zafar menyatakan bahwa mata uang jika ditentukan maka harus dibayarkan sesuai dengan yang ditentukan. Penjual berhak menuntut kepada pembeli apabila tidak membayar sesuai dengan yang ditentukan penjual. Karena harga atau alat tukar yang ditentukan sama halnya dengan barang yang yang sudah ditentukan.

  • Barang bernilai atau barang yang dianggap tidak memiliki kesamaan dengan barang yang lainnya dalam hal jenis, apabila ditukar dengan barang-barang tertentu yang memiliki kesamaan dalam hal jenisnya, maka dapat dianggap sebagai barang, dan barang serupa itu dianggap sebagai harga. Karena barang serupa itu lebih tepat menjadi status harga dari segi kesamaannya dengan uang.
  • Barang-barang yang memiliki kesamaan dengan barang lain dalam jenisnya, apabila ditukar dengan uang tunai, maka ia berstatus barang. Namun jika barang serupa itu ditukar dengan barang sejenisnya yang lain, seperti menjual gandum dengan minyak. Maka barang yang sudah ditentukan itulah yang statusnya menjadi barang, sementara yang disifati dengan tanggungan berstatus harga.
  • Apabila barang-barang bernilai ditukar dengan barang semacamnya, maka masing-masing dari kedua barang tersebut bisa berstatus harga dan bisa berstatus barang.

Hukum-hukum yang berkaitan dengan harga dan barang

Perbedaan antara barang dan harga akan menghasilkan hukum yang berbeda di antara keduanya.

  1. Agar transaksi yang digunakan menjadi sah, maka barang disyaratkan berupa sesuatu yang bernilai, dan syarat ini tidak berlaku atas harga.
  • Disyaratkan atas barang, harus ada di tangan penjual, dan syarat ini tidak mesti berlaku pada harga.
  • dalam jual beli salam, harga tidak boleh ditunda pembayarannya, sementara barang harus tertunda pembayarannya.
  • Biaya penyerahan haraga ditanggung oleh pembeli, sementara biaya penyerahan barang ditanggung oleh penjual.
  • Transaksi yang tidak menyebutkan harga dianggap rusak, sementara transaksi yang tidak menyebutkan barang dianggap batal.
  • Rusaknya barak setelah diserahkan tidak bisa menjadi alasan untuk membatalkan jual beli. akan tetapi rusaknya rusaknya harga setelah diserahkan tidak membatalkan jual beli.
  • Rusaknya barang sebelum diserahkan dapat membatalkan jual beli, akan tetapi rusaknya harga sebelum diserahkan tidak membatalkan jual beli.
  • Seorang pembeli tidak boleh bertindak apapun pada barang yang bisa dipindah-pindah sebelum diterima, sementara penjual boleh saja melakukan apapun pada harga sebelum ia diserahkan.
  • Seorang pembeli harus menyerahkan harga lebih dulu agar berhak untuk menerima barang,

3 Macam Darah Wanita

Kajian kitab Kifayatul akhyar, Imam Taqiyuddin Abu Bakr Bin Muhammad al-Husaini

                Pada salah satu pembahasan dalam kitab tersebut, adalah prihal darah wanita. Penting bagi setiap Muslimah untuk memehami hal tersebut, bahkan hukumnya menjadi fardu ‘ain bagi setiap mereka.

Ada tiga macam darah wanita. Darah haidh, darah nifas, dan darah istihadhoh. Yang dari setiap darah tersebut memiliki perbedaan. Baik secara sebabnya, ciri-cirinya, dan juga hukumnya.

Darah haidh: adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita, karena sebab alamiyah dan bukan karena melahirkan. Darah ini merupakan tuntutan dari tabiat yang sehat. Secara bahasa haidh adalah mengalir. Adapun secara syar’I haidh adalah darah yang keluar jika seorang wanita telah mencapai usia baligh. Ia keluar dari ujung Rahim wanita dengan syarat syarat yang telah diketahui.

Haidh memiliki beberapa nama: ‘Iroq, Dhahaq, Ikbar, I’shor, Thamsu, Daras. Imam juwaini juga mengatakan, ada beberapa ulama yang menyebut haidh dengan kata nifas. Sebagaimana Rasulullah berkata kepada Aisyah, “anafasti?” maksudnya apakah anda haidh.?

Bersambung di edisi selanjutnya….😊

Bangkit dari Bangkai keledai

ما من قوم يقومون من مجلس لا يذكرون الله فيه إلاّ قاموا جيبة حمار وكانوا لهم حسرة

“setiap kaum yang berada dalam sebuah majlis namun mereka tidak berdzikir mengingat alloh di dalamnya, maka ia ibarat bangkit dari bangkai keledai, dan bagi mereka hanyalah penyesalan (di hari kiamat).” (HR. Abu Daud).

sejenak kita bermuhasabah… intropeksi dan bercermin diri. terkadang tanpa sadar aktifitas yang kita lakukan sering kali belum sesuai dengan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah. kita kadang kala masih sering alpa untuk mengindahkan setiap bait peringatan yang beliau sampaikan dalam sebuah pesan cinta untuk para umatnya.

setidaknya, sedikit demi sedikit kita mulai menghidupkan dan mengamalkan hadits-hadits beliau.

sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud ini bisa menjadi bahan renungkan kita malam ini. sebagai seorang pelajar yang aktif di bidang sosial pasti line kehidupan kita tak lepas dari yang namanya berkelompok. bisa jadi dalam sebuah forum diskusi terbuka, presentasi dan lain sebagainya.

namun tentunya sebagai seorang muslim yang selalu menginginkan kebarakahan Alloh dalam setiap halnya, kita tidak ingin sebuah majlis yang kita ikuti tak berarti apa apa selain hanya sebagai forum tak berrtukar gagasan dan pikiran. tak ada nilai plusnya yang membuat istimewa.

lantas bagaimana?

libatkan Alloh selalu, jangan pernah tinggalkan Alloh dalam segala hal. sebut sang Maha Sempurna itu dalam majlis kita, untuk itu jadikan kelompok yang kita adakan sebaik2 majlis….

karena Rasulullah sebutkan betapa meruginya seorang yang telah Alloh gerakkan hatinya untuk berada dalam sebuah majlis tapi dia sama sekali tidak berdzikir, mengingat dan menyebut Alloh, maka dia sungguh merugi, ibarat seorang yang bangkit dari bangkai keledai. tak mendapat apa2 selain penyesalan kelak di hari akhir, “kenapa dulu saya melupakan-Mu ya Rabb”…wallahu a’lam bis shawab…

Hukum Transaksi Dropship

Oleh : Radhiyatun Nisa’

  1. PENDAHULUAN

Di zaman modern saat ini, akan kita dapatkan banyak sekali model transaksi yang bersinggungan dengan penipuan serta ketidakjujuran. Selain itu banyak juga jual beli yang meragukan sehingga kemungkinan besar bisa terjadi kerugian di antara salah satu penjual dan pembeli, dikarenakan kurangnya komunikasi antara penjual dan pembeli.

Oleh karena itu, perkembangan informatika membantu kemajuan dalam bidang perdagangan. Seperti dalam jual beli dropship yang dilakukan melauli internet antara produsen, penjual dan konsumen. Sehubungan dengan ini, penulis mencoba memaparkan pembahasan mengenai transaksi dropship yang sudah masyhur dikalangan khalayak.

  1. PEMBAHASAN
  2. Pengertian
  3. pengertian dropship

Dropship adalah sebuah sistem penjualan produk secara online dimana seorang penjual tidak harus memiliki modal besar atau produk sendiri. Dengan kata lain, seorang penjual tidak memiliki stock barang, melainkan hanya menyediakan sarana pemasaran. Atau secara mudahnya, penjual tersebut hanya menjadi orang tengah.

  • Rukun dropship

Dropship merupakan salah satu bentuk jual beli. oleh karena itu, dalam jual beli dropship memiliki rukun yang sama dengan rukun jual beli, yaitu:

  1. Ijab dan qabul
  2. Orang yang berakad

Berkenaaan dengan sistem jual beli dropship zaman sekarang, maka akan muncul beberapa istilah baru dalam aktivitas perdagangan tersebut:

1). Dropshipper, yaitu orang yang melakukan transaksi jual beli

2). Supplier, yaitu orang yang menyediakan barang untuk dropshipper

3). Buyer, yakni orang yang membeli barang dari dropshipper

c. barang yang diakadkan

d. tempat akad

  • Keuntungan sistem dropship

Segala sistem jual beli pasti memiliki keuntungan dan kerugian. Berikut ini beberapa keuntungan menggunakan jual beli dropship.

  1. Seorang dropshipper tidak perlu memiliki modal besar
  2. Seorang dropshipper tidak perlu bersusah payah dalam memikirkan proses penyimpanan stok barang, packing, pembungkusan, serta pengiriman kepada buyer
  3. Bisnis dengan sistem dropship dapat dilakukan dari rumah atau dimana saja penjual berada. Dengan syarat dropshipper memepunyai koneksi internet dan gadget seperti notebook, laptop, dan smartphone.
  4. Seorang dropshipper tidak menanggung kerugian apabila barang tidak laku dijual. Serta apabila terjadi kesalahan, maka yang menanggung dana kerugian adalah supplier
  5. Tidak mengeluarkan banyak biaya untuk menyewa tempat berjualan
  6. Kerugian sistem dropship

Dalam setiap perniagaan jual beli tentu tidak akan lepas dari celah kekurangan. Berikut ini adalah beberapa kekurangan menggunakan sistem dropship,

  1. Seorang dropshipper tidak mengetahui persediaan barang yang ada
  2. Tidak mempunyai kendali penuh terhadap stop barang. Karena seorang buyer tidak mengetahui produk dan kondisi yang sebenarnya.
  3. Diskon yang didapat lebih sedikit dbanding dengan reseller yang memiliki stok barang sendiri
  4. Mekanisme dropship

Pada dasarnya sistem penjualan dengan dropship cukup sederhana. Dropshipper hanya memilih beberapa produk dari supplier yang akan dijual, kemudian mengambil beberapa foto tersebut dan meng-uploadnya ke media pemasaran dengan memeberikan sedikit keterangan. Apabila terjadi ketertarikan, maka buyer akan memilih barang yang ingin dibeli dan mengirimkan uang sesuai dengan harga barang yang dropshipper tentukan.

Dropshipper kemudian melanjutkan proses pembayaran tersebut ke supplier barang dan memeberikan informasi barang yang dibeli beserta data buyer. Supplier akan mengemas barang yang dibeli dan mengirimkannya kepada buyer atas nama dropshipper sebagai pengirimnya.

  • Hukum transaksi dropship

Sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa mekanisme dropship ialah seorang menjualkan produk barang tanpa adanya modal, ia hanya membutuhkan foto-foto yang didapatkan dari supplier. Namun mekanisme tersebut belum didapati hukum yang jelas. Berikut adalah penjelasan hukumnya.

            Pada dasarnya, hukum asal dari setiap akad jual beli yang didalamya terdapat syarat-syarat tertentu adalah mubah dan diperbolehkan, kecuali jika didapati dalil atau kaidah syar’I yang menunjukkan pada pelarangannya. seperti dalam kaidah:

الأَصْلُ فِي الأشْيَاءِ الإِبَاحَةُ حَتَّى يَدُلُّ الدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ

“hukum asal sesuatu itu diperbolehkan sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya.”

Atau dengan kaidah

الأَصْلُ فِيى المُعَامَلَةِ الإِبَاحَةُ

“hukum asal dari semua muamalah adalah diperbolehkan.”

Kaidah-kaidah di atas menunjukkan halalnya melakukan semua jenis beli dengan syarat memenuhi semua ketentuan dalam mu’amalat yang berlaku.

            Adapun dalil untuk memperkuat kaidah tersebut adalah firman Allah ta’ala:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

“wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janjimu.” (Q.S Al-Midah: 1)

            Diriwayatkan oleh Jarir, ia berkata: “arti أَوْفُوْا بِالعُقُوْدِ  ialah akad nikah dan akad jual beli, serta sumpah dan janji.” Ditambahkan dengan Zaid bin Aslam, ia berkata: makna وْفُوْا بِالعُقُوْدِ  أ َ adalah akad perserikatan dan akad sumpah.”

            Az-Zujaj berkata: “makna dari فُوْا بِالعُقُوْدِ   ialah selalu menepati akad Allah dan selalu menepati akad diantara manusia lainnya. Akad ini wajib untuk ditepati, apabila tidak menyelisihi dan bertentangan dengan syari’at, sebagaiman yang telah disepakati dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah.

            Abu Bakar berkata: lafal Al-‘Aqdu bermakna orang yang melakukan sebuah akad dengan orang lain pada suatu perkara sesuai dengan kehendaknya sendiri. Yang dimaksud dengan sesuai kehendaknya sendiri adalah suatu keharusan dalam menepati janji pada akad yang telah dilakukannya dan yang telah disepakati.

            Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,

المُسْلِمُوْنَ عِنْدَ شُرُوْطِهِمْ فِيْمَا وَافَقَ الحَقَّ

Seorang muslim terikat dengan syarat mereka yang sesuai dengan kebenaran. (HR. Baihaqi)

            Adapun akad jual beli, nikah, sewa menyewa, dan semua akad lainnya disebut akad karena, setiap salah satu dari macam-macam akad tersebut adalah sesuatu yang dikehendakinya sendiri dan harus ditepati.

            Melihat pemaparan di atas, maka jual beli dropship dihukumi boleh. Berdasarkan hukum asal dari semua jual beli adalah boleh apabila akad yang digunakan tidak menyelisihi atau bertentangan dengan syari’at. Akan tetapi, di dalam mekanismenya terdapat beberapa kejanggalan pada syarat jual-beli. yaitu sebagai berikut:

  1. Menjual sesuatu yang tidak miliknya

Khalid bin Abdullah al-Musyaiqih memaparkan bahwa salah satu kaidah penting dalam jula beli adalah seorang penjual harus memiliki sifat jujur dan amanah. Adapun arti jujur dalam hal muamalah yaitu kesesuaian ucapan pelaku dengan realita. Sedangkan arti amanah dalam jual beli adalah menyelesaikan akad, menunaikannya dan tidak menyelisihinya. Namun perlu diperhatikan bahwa dalam mekanisme dropship penjual tidak memiliki barang ketika akad berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat unsur ketidak jujuran dan hilangnya sifat amanah dari penjual.

Berdasarkan hadits Rasulullah yang diriwayatkan dari Hakim bin Hizam ia berkata: aku pernah datang menghadap Rasulullah dan bertanya, “wahai Rasulullah ada seorang laki-laki yang datang kepadaku dan memintaku untuk menjual sesuatu yang bukan hakku, bolehkah aku membelikan barang permintaannya tersebut di pasar kemudian menjualnya kepadanya?bmaka Rasulullah menjawab:

لاَتَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“janganlah kamu menjual sesuatu yang bukan hak mu”

Hadits ini menunjukkan larangan jual beli barang yang belum dimiliki oleh penjual atau pembeli ketika transaksi berlangsung. atau menjual barang yang bukan muliknya dan bukan atas kekuasaannnya. Maksudnya yaitu seseorang menjual barang yang memang ia tidak bisa mengadaknnya atau menghadirkannya, seperti jual beli fudhuli.

  1. Syaikh Abdullah al-Anqary berkata: “tidak sah seseorang melakukan akad jual beli tanpa memiliki barang, karena Rasululllah melarang untuk mengambil keuntungan dari penjualan yang belum menjadi jaminannnya. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya sehingga sampai kepada Abdullah bin Amru, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda:

لَا يَحِلُّ سَلَفٌ وَ بَيْعٌ وَلَا شَرْطَانِ فِي بَيْعٍ وَلَا رِبْحُ مَا لَمْ يُضْمَنْ وَلَا بَيْعُ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

 “tidak halal salaf wa bai’, dua syarat dalam transaksi jual beli, keuntungan yang belum dapat odijamin, dan menjual sesuatu yang tidak engkau miliki.” ((HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa’I Ibnu Majah, dan Baihaqi)

            Dilarangnya jual beli dropship karena pada hakikatnya seseorang tidak membeli barang dari supplier. Ia hanya mengiklankan foto-foto produk barang tersebut dan jika ia menemukan pembeli yang berminat maka ia baru menjualnya kepada pembeli dengan harga eceran sedangkan ia membeli dari supplier dengan harga grosir dan mengambil keuntungan dari perbedaan kedua harga tersebut. Artinya, dropship mengandung unsur riba karena penjualan barang masih berada pada penjual lainnya. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam pembahasan ini adalah prinsip qabdh dalam kepemilikan barang. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah bersabda:

مَنِ اشْتَرَى طَعَامًا فَلَا يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ

      “barang siapa yang membeli makanan maka janganlah dia menjualnya hingga mengambilnya.”  (HR. Muslim)

      Qabdh adalah memegang sesuatu dengan tangannya. Selain itu di dalam qabdh terdapat barang yang diterima untuk dapat ditransaksikan. Sehingga makna qabdh tidak dapat terealisasikan ketika masih tercampur dengan hal lain yang dapat menghalangi transaksi.

  • Jual beli yang mengandung unsur gharar

Seseorang tidak boleh menjual barang yang belum diketahui secara jelas pada macam dan jenisnya. Atau dengan kata lain dapat disebut dengan jual beli gharar. Imam Nawawi mengatakan bahwa jual beli yang mengandung gharar merupakan salah satu pilar syari’at islam yang mencakup berbagai permasalahan jual beli. sehingga Rasulullah melarangnya melalui hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah,

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ بَيْعِ الغَرَارِ

“bahwasannya Nabi melarang jual beli yang tidak jelas”

Berawal dari dropshipper yang tidak memiliki barang ketika transaksi berlangsung, mak tidak menutup kemungkinan akan terjadinya jual beli gharar. Karena dropshipper tidak menjamin barang yang berada pada supplier. Bisa jadi barang tersebut rusak sebelum dikirim atau tidak sesuai dengan keinginan pembeli.

            Adapun hasil dari pemaparan pada hukum jual beli dropship adalah dilarang, karena dalil yang menunjukkan kebolehan jual beli dropship menggunakan lafadz yang masih umum, yaitu segala bentuk akad dan jual beli. sedangkan dalil pelarangannya menunjukkan lafadz yang sudah khusus, yaitu hanya pada jual beli yang tidak dimiliki dan mengandung unsur gharar.  

  1. PENUTUP

Dari pemaparan di atas, mengenai hukum transaksi dropship, dapat diambil kesimpulan:

Dalam sistem jual beli dropship, syarat kepemilikan barang tidak ditemukan pada penjual. Oleh karena itu sesuai kaidah jual beli yang sudah disebutkan di awal, transaksi dropship terdapat unsur kezhaliman, unsur ketidakjelasan, serta tidak adanya sifat jujur dan amanah. Sehingga apabila gambaran dropship demikian, maka dilarang oleh syari’at. Wallahu a’lam bis shawab

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur;an Al-Karim

Atsqalani, al-, Ibnu Hajar, Subulus Salam Syarh Bulughul Maram, jilid 3, cet. Ke-1, Riyadh: maktabah al-Ma’arif, 1427H/2006 M

Ayub, Hasan, Fiqh Mu’amalah fil islam, cet. Ke-1, Kairo, Daarus Salam, 1423

H, 2003 M

Burnu, Muhammad Sidqi bin Ahmad, al-Wajiz fii Idhahi Qawaid Fiqhi al-Kulliyah, ttp.: t.p.,t.t.

https://www.faizalias.com/2013/04/21/apa-itu-dropship

PESAN KALA ITU…📑

Pesan kala itu…

Para Mahasantri semester 4 fokus memandang laptop yang ada dihadapan mereka masing-masing. Hari ini adalah mata kuliah fiqih nawazil, tapi karena sang dosen berhalangan hadir, tugaspun jadi tanggungan kami pada jam kedua ini. suasana tenang menemani kegiatan kami, yang kudengar hanya suara lirih petikan keyboard oleh jari-jari para calon sarjana hukum Islam ini.

Akupun mencuri-curi waktu untuk sekedar menuangkan imajinasi dalam sebuah tulisan sederhana. Sebuah prosa yang masih jauh dari kategori tulisan “BAIK”, kurasa gaya tulisan ku masih belum konsisten, masih perlu banyak perbaikan dan latihan. Namun, ya…inilah salah satu cara yang ku lakoni untuk terus meningkatkan kualitas tulisan yang ku karyakan.

Teringat sebuah pesan seorang mentor jurnalistik yang kala itu mengisi di Ma’had Aly kami, ust. Fajar Shodiq. Penyampaian mengenai motivasi kepenulisan yang beliau sampaikan dapat melejitkan keinginan kami untuk bisa menulis dan menghasilkan sebuah karya. “kalian tak akan dapat menulis jika kalian minim literasi, perbanyak objek bacaan.” Seseorang tak akan dapat mengungkapkan, menceritakan, dan mendefinikan sesuatu jika di dalam kepalanya tidak ada apa-apa. Bukankah pengetahuan dan sebuah inspirasi didapatkan dari kegiatan membaca? Menulis dan membaca adalah dua aktifitas yang tak dapat dipisahkan, ibarat dua bagian uang logam. Ya…begitulah anologi mengenai kaitan antara keduanya.

Selain itu beliau juga memberi pesan khusus kepada kami, para Mahasantri. Bahwasannya seorang Muslimah memiliki peran yang sangat penting dalam peradaban islam, dan dapat dikatakan wanita adalah tonggaknya. untuk jangan pernah membatasi diri hanya untuk perkara yang tak jauh dari  urusan sumur, dapur, dan Kasur yang banyak diungkapkan oleh orang-orang yang buram masa depan terlalu pendek arah pikiranny. Stop….muslimah bukan saatnya berdiam diri dengan hanya mengurus rumah. Kita punya potensi yang harus dan wajib untuk dikembangkan kepada para khalayak. Tidakkah dakwah adalah sebuah metode dalam beriqomatuddin? Sedangkan cara dalam berdakwah bukan hanya lewat mimbar dam masuk keluar masjid dan mushalla. Karena itupun bukan ranahnya para Muslimah. Berdakwalah lewat tulisan, sampaikan pesan cinta
Alloh dan Rasul-Nya dalam balutan ungkapan indah. Mulailah sedari kini, karena jika tidak, mau sampai kapan? Ingat, bahwa kuncinya ada di genggamanmu. Jangan pernah sia-siakan hal itu.  

Muslimah….you must bore that….

“Uighur kembali Menjerit”

Beberapa waktu dekat, kita kembali dikejutkan oleh kabar duka dari sebagian kaum muslimin, suku Uighur. Suku Uighur terutama berdomisili dan terpusat di Daerah Otonomi Xinjiang. Mereka adalah minoritas yang berdomisili di negara yang mayoritas berideologi atheis, republik Rakyat Tiongkok. Berbeda dengan negara-negara lain yang mana minoritas muslim dapat hidup damai tanpa ancaman atas gangguan. Keamanan dapat terjamin walau hidup diantara orang-orang yang berbeda kepercayaan.

astaghfirulloh….laa haula walaa quwwata illa billah…” kalimat thayyibah itulah yang pertama kali muncul dari lisan kami tatkala menyaksikan berbagai kabar duka di media social mengenai muslim Uighur. Ya…..Uighur, nama ini jelas tidak asing lagi di telinga kita, kaum muslimin di Indonesia.berdasarkan riset yang saya baca, sejak tahun 2017 Uighur telah melahirkan sejarah perih nan mengenaskan. Bagaiman tidak, pada waktu itu para rezim tentara china berhasil mengusung berbagai aksi kejahatan yang brutal lagi kejam terhadap para muslimin Uighur. tak pandang siapa yang menjadi korban dari penyerangan biadap mereka. Orang tua, muda, anak-anak, laki-laki dan perempuan semua sama, menjadi objek dari aksi tersebut. Mereka disiksa dengan sekejam mungkin. Hingga nyawa tak lagi dapat dipertahankan.

Ma’asyiral Muslimin…..

            Saat ini mereka tenggelam dalam lautan darah, bukti dari kekejaman yang menimpa setiap diri mereka. Mereka disiksa dengan berbagai cara yang bejat. Para wanita dipaksa menikah dengan lelaki china, dipaksa meminum alcohol hingga habis, ditahan di sebuah tempat yang mereka sebut dengan kamp konsentrasi. Di sana mereka dipaksa untuk mengatakan kalimat-kalimat kekafiran, dan dipaksa untuk mengakui kesalahan beragama mereka selama ini. para rezim china berusaha melepas keimanan yang terpatri di dalam hati mereka.

            Lantas….masih pantaskah kita berdiam diri di dalam negara yang masih Alloh karuniakan kedamaian dan ketentraman di dalamnya? Sedang saudara kita di sana sedang menjerit dalam penyiksaan dahsyat… mereka sebenarnya sedang memanggil kita, “dimanakah saudara-saudaraku yang akan berjuang memebela kami? kami senantiasa menunggu uluran tangan sebagai bukti ikatan atas keimanan di dalam hati kita sama. Rabb kita sama, Rasul kitapun sama….where are you my brother in islam and iman?

            Hingga kini tangis itu belum reda, luka itu masih menganga, sakit itu masih terus terasa pedih. Belum usai demam yang kita rasakan, yang kita rasakan? Iya kita…. Karena Rasululloh “seorang muslim dengan muslim yang lainnya ibarat satu badan, jika ada salah satu bagian yang demam semua merasa demam.”

Selama ini dunia sibuk dengan kecaman bahwa islam adalah agama yang mengandung ajaran teroris dan radikal. Namun, cobalah tengok, bagaimana Alloh buktikan, dunia menjadi saksi siapa yang teroris dan Radikal yang sebenarnya?

            My Brother and sister in one aqidah….

Tulisan ini saya tujukan untuk semua Hamba Alloh, umat Nabi Muhammad yang mengaku memiliki keimanan di dalam hatinya… mari bersama menyambut tangan-tangan mereka  mereka. Apapun yang dapat kita berikan, lakukan….wallohu ‘alam bish shawab

HUKUM BAI’UL MUKROH

Yang dimaksud dengan bai’ul mukrah adalah: transaksi yang dilakukan karena seseorang dipaksa (mukroh), maka transaksi semacam ini tidak sah, sebagaimana firman Alloh ta’la dalam surat An-Nisa’: 29

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta seseorang diantara kalian dengan cara yang bathil. Kecuali apabila itu merupakan perdagangan yang telah ada keridhaan diantara kalian. Dan janganlah kalian saling membunuh, sesungguhnya Alloh maha penyayang ternhadap kalian”

Madzhab syafi’iyyah dan hanabilah, menganggap transaksi tersebut bathil karena mereka mensyaratkan bahwasannya dalam transaksi jual-beli ada syarat saling ridha dan rela dari kedua belah pihak.

Adapun jika dalam pemaksaan tersebut mengandung hal yang dibenarkan, maka ulama ada yang memperbolehkan. Dan hukumnyapun sah. Sebagai contoh,  Seseorang dipaksa untuk menjual rumahnya demi peluasan masjid dan jalan, atau dipaksa menjual hartanya untuk melunasi hutang-hutangnya.

Jumhur Hanfiyyah juga berpendapat, bai’ul mukroh hukumnya FASID, karena transaksi tersebut meniadakan keridhaan yang menjadi syarat sah akad. Sedangkan malikiyyah berpendapat, akad transaksi Mukroh, hukumya adalah ghairu lazim (sah tapi ditangguhkan, yaitu yang dipaksa boleh memilih mau melanjutkan transaksi atau dihentikan)

(al-wajiz fii fiqhil islam, wahbah zuhaili)