ILMUAN BESAR ISLAM, AL-KHAWARIZMI

@radhiyatunnisa

Sang Perumus Aljabar sekaligus Ahli Kedokteran

Nama dan Kelahirannya

Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin musa al-Khawarizmi. Lahir di daerah bernama Khawarizm, Khurasan pada 232 H/ 780 M. beliau diperkirakan lahir pada masa Khalifah Abasiyah al-Ma’mun al-Mu’tashim dan al-Watsiq yang dikenal sebagai masa keemasaan ilmu pengetahuan. Di negara-negara barat beliau terkenal dengan sebutan al-Ghoritmi, al-Ghorismi, al-Cowarizmi. Keluarganya merupakan keturunan Persia dan menetap di kota khawarizm kemudian pindah ke selatan kota Baghdad. Beliau wafat pada 850 M. 

Karyanya

Karya beliau yang sangat fenomenal dalam bidang matematika al- Jabar wal Muqabalah. Penulisan buku ini berdasarkan permintaan Khalifah al-Ma’mun. buku ini banyak diterjemahkan ke dalam bahasa lain seperti bahasa arab, dan menjadi rujukan utama di universitas matematika sampai abad ke 10. Sedangkan dalam bidang astronomi beliau menulis buku Ma’rifat sa’at al-mashriq fī kull balad danKitab al-Fihris. Selain itu beliau pernah mendapat mandate dari khalifah al-Watsiq untuk mengadakan observasi dan riset terhadap jenazah.

Rihlah ilmiyah dan Gurunya

Al-Khawarizmi pernah mengenyam Pendidikan di sebuah Lembaga bernama Baitul Hikmah yang didirikan oleh Khalifah al-Ma’mun. Lembaga ini berbenntuk seperti perpustakaan dan akademi penelitian. Di sana beliau mempelajari berbagai bidang ilmu seperti matematika, astronomi, sejarah, tgeografi termasuk kedokteran. Salah satuguru beliau yang masyhur adalah  Ibnu Nadhim dan Ibnu al-Qifthi.

Sang Pejuang Warisan Nabi

“Ketika aku mendengar suatu kalimat yang belum pernah kudengar, maka seluruh anggota badanku merasakan kenikmatan sebagaimana nikmatnya kedua telinga saat mendengarkannya.”(imam Syafi’i)

Berbicara mengenai sebuah perjuangan, maka tidak akan lepas kaitannya dengan segala hal yang tidak mengenakkan, pahit, penuh onak duri, pengorbanan, tetesan keringat dan air mata, tantangan, rintangan, baik jiwa maupun harta. Setiap orang pasti pernah merasakan hidup dengan melakukan suatu perjuangan. Dan tentu saja hal yang diperjuangkan tersebut berbeda-beda setiap masing-masing. Karena dalam meraih sesuatu ada kalanya seseorang tidak langsung dengan mudah mendapat dan meraihnya. Ada kalanya dia harus mengerahkan segala hal yang dia mampu untuk bisa mendapatnya. Salah satunya adalah perjuangan seseorang dalam mencari ilmu.

Mencari ilmu bukanlah suatu perkara yang mudah. Apalagi pada zaman dahulu, yaitu pada masa Rasulullah, para sahabat, tabi’in, dan para ulama. Jika kita menela’ah kembali sejarah islam, maka kita akan mendapatkan kisah hidup yang begitu menginspirasi dan bisa kita jadikan contoh serta teladan. Bagaimana para ulama zaman dahulu berjuang demi mendapatkan sepotong hadits Rasulullah, berhari-hari menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki, ada yang rela menjual baju, atau bahkan atap rumah sebagai bentuk pengorbanan mereka. Kisah-kisah perjalan hidup mereka tidak akan lekang oleh zaman, rasanya mustahil dapat melupakan sejarah hidup mereka yang memberikan manfaat bagi setiap orang, bukan hanya pada masa mereka hidup tapi hingga masa dimana kita hidup sekarang.

            Siapa yang tak mengenal ulama satu ini, imam Syafi’i. Salah satu ulama cendekiawan dengan segudang ilmu yang hingga saat ini para umat islam merasakannya. Nama lengkapnyanya adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’I bin Saib bin Ubaid bin Abi Yazid bin Hasyim. Nama panggilannya adalah Abu Abdillah. Namun beliau juga sangat terkenal dengan sebutan Syafi’i. imam Syafi’i lahir di sebuah daerah bernama Gaza, pada tahun 150 H, tahun dimana Imam Abu Hanifah wafat. Ayah beliau meninggal dunia pada usia muda, sehingga pada usia balita imam syafi’i adalah seorang anak yatim dalam pengasuhan sang ibu. Karena ibu imam syafi’I mengkhawatirkan pertumbuhanya kelak, maka tatkala menginjak usia dua tahun I    mam syafii  diajak pindah ke kampung halaman ibunya di Makkah, agar beliau dapat tumbuh disana dengan lingkungan yang baik, begitulah harapan mulia sang ibu terhadap anaknya. Menjalani hidup dalam kefakiran tentu bukanlah hal yang mudah bagi seorang wanita yang ditinggal wafat suaminya, terlebih ia harus membesarkan anak seorang diri. Namun karena keshalihan yang telah Allah karuniakan kepada  seorang ibu, beliau berhasil mendidik sang anak hingga sukses menjadi seorang ulama besar dengan segudang ilmu.  

            Berkat kesungguhan sang ibu dalam perjuangan mendidik anaknya. Muhammad bin idris kecil sudah mulai menampakkkan kecerdasan intelektualnya dalam berbagai cabang ilmu. Diantaranya, beliau telah selesai menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Quran pada usia 7 tahun. Selain itu beliau juga menghafalkan kitab hadits yang ditulis oleh Imam Malik. Kecerdasan beliau yang tinggi mulai tampak tatkala beliau menghafal hadits-hadits Nabi dengan cepat. Tatkala para Muhaddits menyampaikan hadits maka beliau akan mendengarkan dengan baik lalu menulisnya di atas kulit atau pelepah. Tak jarang beliau pergi ke kantor-kantor pemerintahan sekitar Makkah untuk mengumpulkan kertas-kertas setengah pakai yang masih layak agar beliau bisa menuliskan materi pelajaran yang telah didapat. Hal tersebut beliau lakukan tanpa rasa malu sedikitpun akan hinaan orang lain atas dirinya. Kondisi semacam ini, tentu bukanlah hal yang mudah bagi seorang anak kecil untuk melaluinya. Namun Muhammad bin idris yakin dengan usaha yang dilakukan serta berbalut doa kepada Sang Khaliq bahwa apa yang beliau perjuangkan saat ini akan mendatangkan hasil yang manis dikemudian hari.  

            Selain itu, diusia beliau yang masih terbilang dini, Muhammad bin Idris memiliki hobi memanah dan bersyair. Dengan kegigihan dan ketekunannya dalam menggeluti hobinya tersebut, beliau menjadi sangat mahir dalam memanah. Suatu ketika, beliau pernah melepaskan sepuluh anak panah, semua mengenai sasaran dan tidak ada satupun yang melesat.

            Dengan kemampuannya dalam menulis dan melantunkan syair-syair arab yang indah, beliau cukup sering berkumpul dengan anak-anak penduduk daerah pendalaman untuk melantunkan syair bersama. Ketika beliau sedang asyik melantunkan syair bersama anak-anak lain, ada seorang laki-laki yang mendekati beliau seraya berkata “apakah kamu sudah merasa cukup dengan kemampuan yang kamu miliki sekarang? Kenapa kamu tidak manfaatkan kecerdasanmu untuk mempelajari ilmu fiqih.  Sesungguhnya umat islam membutuhkan ilmu tersebut.” Mendengar perkataan tersebut, imam syafii kemudian merenung, dan menyadari kebenaran apa yang telah dikatakan oleh lelaki tersebut.

            Menginjak usia dewasa, imam syafii mulai mencoba melakukan perjalanan menuntut ilmu ke berbagai penjuru daerah. Beliau merasa belum cukup atas keilmuaan yang dimilikinya. Dari Mekkah beliau bertolak ke Madinah. Setelah mendengar kabar mengenai pemimpin Madinah yang memiliki keilmuan tinggi, membuat beliau semakin bersemangat menuju ke kota Madinah. Dengan bekal seadanya, dan diiringi Ridha sang ibu, imam syafii berangkat ke Madinah dengan berjalan kaki untuk mengarungi Samudra ilmu. Perjalanan panjang beliau tempuh dengan semangat dan Azzam yang membara di dalam dada yang menunjukkan kehausannya terhadap warisan Nabi, yakni ilmu.   

            Setelah melewati proses panjang akhirnya imam syafii dapat bertemu dengan salah satu imam yang begitu popular, yaitu Imam Malik. Dari beliau imam syafii belajar banyak hal. Beliau mengikuti berbagai majlis bersama sang imam di masjid-masjid. Tatkala sang imam sedang menjelaskan sebuah pelajaran, beliau melihat imam Syafii sedang memainkan tikar setelah membasahinya dengan air liurnya di atas telapak tangannya. Imam Malikpun menjadi bersedih, padahal dalam majlis tersebut imam malik telah menyampaikan empat puluh hadits. Seakan imam Syafi’i tidak menghargai dirinya yang berbicara di depan. Setelah majelis tersebut selesai, barulah sang Imam mencoba untuk mendekati muridnya itu, lantas berkata, “wahai Muhammad bin Idris, kenapa kamu bermain-main ditengah pembacaan hadits Rasulullah?”, dengan wajah merunduk Muhammad bin idris menjawab pertanyaan sang Imam, “wahai guruku, sesungguhnya tadi aku tidak sedang bermain-main, aku hanya menulis dengan ludahku apa yang anda sampaikan agar aku tidak lupa, karena aku adalah seorang anak yang fakir dan tidak memiliki uang untuk membeli kertas dan juga pena.” Imam Malik tertegun kagum mendengar jawaban dari sang murid. Hatinya dibuat luluh oleh sang murid. Datang dari daerah yang jauh dengan tidak membawa bekal yang memadai, namun begitu gigih. Ditengah kondisi hidup yang berat dan begitu sulit, Muhammad bin idris mampu membuktikan dengan Azzam dan semangat yang tinggi serta pengorbanan dan perjuangan berat, bahwa ilmu  bisa diraih oleh siapa saja yang ingin bersungguh-sungguh.

 Kisah perjalanan hidup beliau dalam menuntut ilmu memberikan gambaran nyata kepada kita bagaimana seharusnya kita berjuang untuk mewujudkan suatu hal yang ingin kita capai dalam hidup. Terkadang manusia terlalu mudah untuk mengeluh tatkala baru menghadapi sedikit ujian. Kita melupakan yang Namanya hakikat perjuangan. Ingatlah kawan…seandainya ilmu itu dapat diraih dengan angan-angan belaka saja, maka kita tidak akan mendapatkan orang bodoh di dunia ini.

Sragen, 24 oktober 2019

Identitas penulis:

Nama: Radhiyatun Nisa’

ID Instagram: zahwazahari02@gmail.com

No. WA: 081353249864

Alamat: Ma’had Aly Hidayaturrahman, Pilang, Masaran, Sragen, Jawa Tengah

Rahmah El-Yunusiyyah

Ulama Perempuan Dari Tanah Minang

Menjelajah sejarah tanah minang, kita akan dapati banyak peran tokoh-tokoh luar biasa. Siapa yang tak mengenal Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang terkenal dengan panggilan buya hamka? Seorang ulama sekaligus sastrawan yang melahirkan banyak karya-karya fenomenal. Kemudian ada ulama besar Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Agus Salim, Ilyas Yakoub, Muhammad Natsir dan masih banyak lagi tokoh-tokoh pembaharu yang lahir dari tanah minang.

Dan ternyata dibalik semua nama tersebut kita tak dapat melupakan peranan seorang tokoh wanita dalam sejarah Indonesia khususnya Sumatra barat. Jejak perjuangan tokoh wanita ini memberikan banyak pengaruh bagi banyak kalangan. Namanya tak terlalu masyhur dikenal khalayak namun apa yang dia perjuangkan dapat mendunia. Dialah Rahmah el-Yunusiyyah.

Rahmah El-Yunusiyyah lahir di sebuah rumah gadang di jalan lubuk mata kucing pada hari jum’at tanggal 29 desember 1900 M, yaitu bertepatan dengan tanggal 1 Rajab 1318 H. Rahmah adalah anak bungsu dari lima bersaudara dari pasangan Syaih Muhammad Yunus dan Rafi’ah. Ayahnya Syaikh Muhammad Yunus adalah seorang ulama besar pada zamannya. Sedangkan ibundanya Rafi’ah juga bukan orang sembarangan. Dia adalah keturunan ulama asal langkat, Bukit Tinggi, Sumatra Barat dan masih memiliki pertalian darah dengan haji miskin salah seorang tokoh gerakan Paderi. Sedangkan kakaknya yang tertua Zainuddin Labay el-Yunusiyyah adalah seorang pendiri Lembaga Pendidikan bernama Thawalib.

Perjalanan Hidup Rahmah

Ketika ayahanda wafat, ibunya berinisiatif menjadikan murid Syaikh Mahmud Yunus sebagai guru mengaji Rahmah. Sedangkan dua orang kakaknya Zainuddin Labay dan Muhammad Rasyad yang pernah mengenyam Pendidikan di sekolah Belanda (HIS) mengajari Rahmah baca tulis arab dan latin di rumah. Di bawah asuhan ibu dan kedua kakaknya Rahmah tumbuh menjadi anak yang memiliki kemauan keras dan teguh hati. Menginjak usia 10 tahun Rahmah sudah sangat aktif mengikuti berbagai kajian dalam bentuk halaqah di beberapa surau di kota padang panjang. Bahkan dia pernah belajar ilmu fikih kepada H. Abdul Karim Amrullah. Ketika mendaftar di sebuah madrasah Tsanawiyah Rahmah bisa langsung masuk ke kelas 3, Dengan kemampuan ilmiyah yang dia miliki.

Ketika Rahmah berusia enam belas tahun, dia dinikahkan dengan seorang alim yang bernama Bahuddin Lathif dari Sumpur Padang Panjang. Tetapi pernikahan tersebut tidak berlangsung lama, setelah enam tahun bersama keduanya sepakat untuk bercerai di tahun 1922. Sejak saat itu dia tidak pernah menikah lagi, seluruh perhatiannya dia curahkan kepada anak-anak didiknya.  

Do’a dan Impian

Dengan kapasitas ilmiyah yang dia dapatkan dengan berguru ke berbagai ulama dan mengikuti halaqah-halaqah, Rahmah memiliki impian yang sangat besar dalam hidupnya. Yaitu mendirikan sebuah Lembaga Pendidikan untuk para wanita. Dalam sebuah catatan hariannya, Rahmah menulis:

“Ya Allah Ya Rabb, apabila Engkau meridhai cita-cita hamba-Mu untuk mencerdaskan anak bangsaku terutama anak-anak perempuan yang masih jauh tercecer dalam bidang ilmu dan pengetahuan maka mudahkanlah jalannya Ya Rabb.” tampaknya ada satu dalam hidupnya, benak Rahmah dipenuhi dengan pikiran bagaimana membuat anak-anak perempuan memperoleh Pendidikan yang layak, menjadi cerdas dan berkarakter. Pikiran tersebut muncul bukan karena anak-anak perempuan tidak memperoleh Pendidikan. Karena pada masa itu sejumlah sekolah di Minangkabau sudah membuka ruang dan memberikan kesempatan kepada perempuan untuk ikut dalam proses Pendidikan sama dengan laki-laki.

Namun, alasan yang mendorong rahmah untuk mendirikan sekolah khusus perempuan adalah agar perempuan memeperoleh hak dan kesempatan secara penuh untuk menuntut ilmu dengan menciptakan lingkungan belajar dan sistem pendidikan yang khas, dan memungkinkan mengembangkan kapasitas secara optimal, namun tentunya tidak lepas dari fitrah dan kodrat seorang wanita. Rahmah ingin menciptakan lingkungan belajar dan sistem pendidikan yang diperkuat dengan berbagai macam keterampilan yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Berangkat dari impiannya inilah lahir sekolah dirasah lil banat yang berlokasi di sebuah masjid di pasar usang, Padang panjang. Yang didirikan pada tanggal 1 november 1923.

Badai perjuangan Rahmah

Di tengah perjalanan merintis sekolah Dirasah lil banat, rahmah tidak banyak mendapat dukungan dari masyarat sekitar. Mereka tidak yakin dengan kemampuan rahmah, seorang perempuan muslimah dapat menyelenggarakan sebuah pendidikan dengan baik. Tidak sedikit dari mereka yang mencemooh. Tetapi rahmah tetap yakin dengan prinsip hidupnya, bahwa Allah pasti akan menolong siapa saja yang menolong agama-Nya. Kegiatan sekolah tetap berjalan. Hingga pada tahun 1924 sekolah tersebut harus pindah ke sebuah rumah namun masih di daerah yang sama. Disana para siswi sudah mulai mengenal sistem kelas yang dilengkapi dengan bangku, meja, dan papan tulis.

Tahun 1926, kota Padang panjang dilanda gempa bumi. Beberapa bangunan di daerah tersebut menjadi rusak dan runtuh. Tak terkecuali sekolah dirasah lil banat. Sekolah tersebut mengalami rusak barat. Tetapi rahmah tetap tegar. Dia berusaha membangun kembali sekolah tersebut tanpa mendapat mendapat banyak bantuan dari pihak lain. Bersama majlis guru Rahmah mendirikan bangunan sederhana dari bambu, beratap daun rumbia, dan berlantai tanah.

Namun seiring berjalannya waktu, sekolah Rahmah mendapatkan perhatian besar dari para wali muridnya yang merasa simpati akan perjuangannya. Hingga pada tahun 1928 Rahmah berhasil membangun Gedung sekolah permanen.

Dari kisah Rahmah El-Yunusiyyah banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Sebagaimana pepatah orang minang yang berbunyi, Baraja ka nan manang, mancontoh ka nan sudah”. Yang maknanya, Belajar dari mereka yang telah mencapai kesuksesan dan ambil hikmah dari kegagalan orang lain. [RadhiyahEl-Mumtazah].

Sang Pejuang Warisan Nabi

“Ketika aku mendengar suatu kalimat yang belum pernah kudengar, maka seluruh anggota badanku merasakan kenikmatan sebagaimana nikmatnya kedua telinga saat mendengarkannya.”(imam Syafi’i)

Berbicara mengenai sebuah perjuangan, maka tidak akan lepas kaitannya dengan segala hal yang tidak mengenakkan, pahit, penuh onak duri, pengorbanan, tetesan keringat dan air mata, tantangan, rintangan, baik jiwa maupun harta. Setiap orang pasti pernah merasakan hidup dengan melakukan suatu perjuangan. Dan tentu saja hal yang diperjuangkan tersebut berbeda-beda setiap masing-masing. Karena dalam meraih sesuatu ada kalanya seseorang tidak langsung dengan mudah mendapat dan meraihnya. Ada kalanya dia harus mengerahkan segala hal yang dia mampu untuk bisa mendapatnya. Salah satunya adalah perjuangan seseorang dalam mencari ilmu.

Mencari ilmu bukanlah suatu perkara yang mudah. Apalagi pada zaman dahulu, yaitu pada masa Rasulullah, para sahabat, tabi’in, dan para ulama. Jika kita menela’ah kembali sejarah islam, maka kita akan mendapatkan kisah hidup yang begitu menginspirasi dan bisa kita jadikan contoh serta teladan. Bagaimana para ulama zaman dahulu berjuang demi mendapatkan sepotong hadits Rasulullah, berhari-hari menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki, ada yang rela menjual baju, atau bahkan atap rumah sebagai bentuk pengorbanan mereka. Kisah-kisah perjalan hidup mereka tidak akan lekang oleh zaman, rasanya mustahil dapat melupakan sejarah hidup mereka yang memberikan manfaat bagi setiap orang, bukan hanya pada masa mereka hidup tapi hingga masa dimana kita hidup sekarang.

            Siapa yang tak mengenal ulama satu ini, imam Syafi’i. Salah satu ulama cendekiawan dengan segudang ilmu yang hingga saat ini para umat islam merasakannya. Nama lengkapnyanya adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’I bin Saib bin Ubaid bin Abi Yazid bin Hasyim. Nama panggilannya adalah Abu Abdillah. Namun beliau juga sangat terkenal dengan sebutan Syafi’i. imam Syafi’i lahir di sebuah daerah bernama Gaza, pada tahun 150 H, tahun dimana Imam Abu Hanifah wafat. Ayah beliau meninggal dunia pada usia muda, sehingga pada usia balita imam syafi’i adalah seorang anak yatim dalam pengasuhan sang ibu. Karena ibu imam syafi’I mengkhawatirkan pertumbuhanya kelak, maka tatkala menginjak usia dua tahun imam syafii  diajak pindah ke kampung halaman ibunya di Makkah, agar beliau dapat tumbuh disana dengan lingkungan yang baik, begitulah harapan mulia sang ibu terhadap anaknya. Menjalani hidup dalam kefakiran tentu bukanlah hal yang mudah bagi seorang wanita yang ditinggal wafat suaminya, terlebih ia harus membesarkan anak seorang diri. Namun karena keshalihan yang telah Allah karuniakan kepada  seorang ibu, beliau berhasil mendidik sang anak hingga sukses menjadi seorang ulama besar dengan segudang ilmu.  

            Berkat kesungguhan sang ibu dalam perjuangan mendidik anaknya. Muhammad bin idris kecil sudah mulai menampakkkan kecerdasan intelektualnya dalam berbagai cabang ilmu. Diantaranya, beliau telah selesai menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Quran pada usia 7 tahun. Selain itu beliau juga menghafalkan kitab hadits yang ditulis oleh Imam Malik. Kecerdasan beliau yang tinggi mulai tampak tatkala beliau menghafal hadits-hadits Nabi dengan cepat. Tatkala para Muhaddits menyampaikan hadits maka beliau akan mendengarkan dengan baik lalu menulisnya di atas kulit atau pelepah. Tak jarang beliau pergi ke kantor-kantor pemerintahan sekitar Makkah untuk mengumpulkan kertas-kertas setengah pakai yang masih layak agar beliau bisa menuliskan materi pelajaran yang telah didapat. Hal tersebut beliau lakukan tanpa rasa malu sedikitpun akan hinaan orang lain atas dirinya. Kondisi semacam ini, tentu bukanlah hal yang mudah bagi seorang anak kecil untuk melaluinya. Namun Muhammad bin idris yakin dengan usaha yang dilakukan serta berbalut doa kepada Sang Khaliq bahwa apa yang beliau perjuangkan saat ini akan mendatangkan hasil yang manis dikemudian hari.  

            Selain itu, diusia beliau yang masih terbilang dini, Muhammad bin Idris memiliki hobi memanah dan bersyair. Dengan kegigihan dan ketekunannya dalam menggeluti hobinya tersebut, beliau menjadi sangat mahir dalam memanah. Suatu ketika, beliau pernah melepaskan sepuluh anak panah, semua mengenai sasaran dan tidak ada satupun yang melesat.

            Dengan kemampuannya dalam menulis dan melantunkan syair-syair arab yang indah, beliau cukup sering berkumpul dengan anak-anak penduduk daerah pendalaman untuk melantunkan syair bersama. Ketika beliau sedang asyik melantunkan syair bersama anak-anak lain, ada seorang laki-laki yang mendekati beliau seraya berkata “apakah kamu sudah merasa cukup dengan kemampuan yang kamu miliki sekarang? Kenapa kamu tidak manfaatkan kecerdasanmu untuk mempelajari ilmu fiqih.  Sesungguhnya umat islam membutuhkan ilmu tersebut.” Mendengar perkataan tersebut, imam syafii kemudian merenung, dan menyadari kebenaran apa yang telah dikatakan oleh lelaki tersebut.

            Menginjak usia dewasa, imam syafii mulai mencoba melakukan perjalanan menuntut ilmu ke berbagai penjuru daerah. Beliau merasa belum cukup atas keilmuaan yang dimilikinya. Dari Mekkah beliau bertolak ke Madinah. Setelah mendengar kabar mengenai pemimpin Madinah yang memiliki keilmuan tinggi, membuat beliau semakin bersemangat menuju ke kota Madinah. Dengan bekal seadanya, dan diiringi Ridha sang ibu, imam syafii berangkat ke Madinah dengan berjalan kaki untuk mengarungi Samudra ilmu. Perjalanan panjang beliau tempuh dengan semangat dan Azzam yang membara di dalam dada yang menunjukkan kehausannya terhadap warisan Nabi, yakni ilmu.   

            Setelah melewati proses panjang akhirnya imam syafii dapat bertemu dengan salah satu imam yang begitu popular, yaitu Imam Malik. Dari beliau imam syafii belajar banyak hal. Beliau mengikuti berbagai majlis bersama sang imam di masjid-masjid. Tatkala sang imam sedang menjelaskan sebuah pelajaran, beliau melihat imam Syafii sedang memainkan tikar setelah membasahinya dengan air liurnya di atas telapak tangannya. Imam Malikpun menjadi bersedih, padahal dalam majlis tersebut imam malik telah menyampaikan empat puluh hadits. Seakan imam Syafi’i tidak menghargai dirinya yang berbicara di depan. Setelah majelis tersebut selesai, barulah sang Imam mencoba untuk mendekati muridnya itu, lantas berkata, “wahai Muhammad bin Idris, kenapa kamu bermain-main ditengah pembacaan hadits Rasulullah?”, dengan wajah merunduk Muhammad bin idris menjawab pertanyaan sang Imam, “wahai guruku, sesungguhnya tadi aku tidak sedang bermain-main, aku hanya menulis dengan ludahku apa yang anda sampaikan agar aku tidak lupa, karena aku adalah seorang anak yang fakir dan tidak memiliki uang untuk membeli kertas dan juga pena.” Imam Malik tertegun kagum mendengar jawaban dari sang murid. Hatinya dibuat luluh oleh sang murid. Datang dari daerah yang jauh dengan tidak membawa bekal yang memadai, namun begitu gigih. Ditengah kondisi hidup yang berat dan begitu sulit, Muhammad bin idris mampu membuktikan dengan Azzam dan semangat yang tinggi serta pengorbanan dan perjuangan berat, bahwa ilmu  bisa diraih oleh siapa saja yang ingin bersungguh-sungguh.

 Kisah perjalanan hidup beliau dalam menuntut ilmu memberikan gambaran nyata kepada kita bagaimana seharusnya kita berjuang untuk mewujudkan suatu hal yang ingin kita capai dalam hidup. Terkadang manusia terlalu mudah untuk mengeluh tatkala baru menghadapi sedikit ujian. Kita melupakan yang Namanya hakikat perjuangan. Ingatlah kawan…seandainya ilmu itu dapat diraih dengan angan-angan belaka saja, maka kita tidak akan mendapatkan orang bodoh di dunia ini.

Sragen, 24 oktober 2019

Identitas penulis

Nama: Radhiyatun Nisa’

ID Instagram: zahwazahari02@gmail.com

No. WA: 081353249864

Alamat: Ma’had Aly Hidayaturrahman, Pilang, Masaran, Sragen, Jawa Tengah

Sepenggal Kisah Ulama MinangKabau✍

🍀💦🍀
👳‍♂️Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi📜
Sebenarnya sudah sejak bangku SMP mendengar nama ulama masyhur ini, namun Alhamdulillah baru bisa menyelami kisah hidupnya sekarang walau blm terlalu dalam


Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi merupakan adalah seorang ulama asal minangkabau, kelahiran koto tuo balai gurah pada 1852 H/ 1915 M.
Beliau memulai dan mengakhiri karirnya sebagai ulama di Mekkah al-mukarramah. Setelah meninggalkan ranah minang, beliau langsung brangkat ke mekkah untk menunaikn ibadah haji dan menuntut ilmu. Hingga akhirny beliau menjadi ulama dan syaikh trkenal di masjidil haram. Beliau menikah dgn org arab dan memiliki keturunan darinya.
Dari istri pertama, beliau mndapatkn seorg putra yg diberi nama Abdul karim. Sedangkan dr istri kedua dikarunia 3 anak: Abdul Malik, Abdul Hamid, dan Siti Khadijah.


Ilmu utama yg didalami beliau adalah ilmu fiqhi, disamping mempelajari ilmu2 lain seperti ilmu hisab, aljabar, dan falak. Adapun madzhab yg dianutnya adalah madzhab syafi’iyyah. Diantara guru2nya adalah: Ahmad Zain Dahlan dan syaikh Yahya Kabli.
Karena kecerdasan dan ketekunan yg dimilikinya, beliau membuat beberapa halaqah, hingga memiliki ratusan murid. Sebagian besar muridnya berasal dr indonesia dan semenanjung malaysia, yg dulu disebut dgn julukan ‘orang jawi’.
Beliau banyak menulis kitab2 mengenai fiqih dan ushul fiqih dgn bahasa arab dan melayu.
Diantara murid2 beliau yg kmbali plg ke tanah air: Tuan Haji Muhammad Nur yg kemudian mnjd mufti kerajaan langkat, tuan Syaikh Hasan Maksum yg mnjadi mufti kerajaan Deli.
KH Ahmad Dahlan, pendiri muhammadiyah, kiyai haji Ibrahim ketua kedua Muhammadiyah juga merupakn mantan murid beliau.
Semua murid beliau terkenal sebgai ulama, guru, pendiri perserikatan dan organisasi sosial islam dan pejuang kemerdekaan nasional.


Secara langsung, gerak dan perjuangan ahmad khatib di tanah air indonesia umumnya, dan sumatra barat memang tidak ada, namun fikiran2 beliau tntang kemajuan, pembaharuan, dan serta semangat juang melawan penjajahan untk memperoleh kemerdekan, dilakukannya melalui muridnya….


Beliau terkenal sebagai tokoh yg anti penjajah belanda dan kokoh pendiriannya dlm melaksanakn hukum agama, sekaligus menentang kebiasaan lain yg bertentangan dgn hukum islam.
🍀💦🍀
Demikian sekelumit jasa dan perjuangan beliau yg perlu dipelajari lebih lanjut agar lebih tersingkap semua rahasia perjuangan beliau yg akan membangkitkan semangat juang generasi muda islam….
✊🏾✊🏾✊🏾

salamPerjuangan

salamQalam

salamPemudaBaperBangunPeradaban

salamLiterasi

📚Refrns: Gerakan pembaharuan islam di Minangkabau: Hamka