Kan baru adzan jauh! 😅

diamanahi menjadi bagian ta’lim dalam organisasi BEM, membuat kami harus berusaha untuk menjadi teladan terlebih dalam masalah ruhiyyah dan ibadah. paling tidak sering-sering mengingatkan, salah satunya dalam masalah puasa. “akhwat…besok hari apa ya?” dengan serempak adik-adik tingkat akan menjawab, kalau tidak senin ya kamis😄. “seperti biasa ya kami dari bagian ta’lim menghimbau dan mengingatkan, barang siapa yang ingin berencana untuk puasa baik sunnah maupun qadha, silahkan azzam dan niatnya lebih diperkuat ya, semoga bangunnya gak telat dan bisa menjalankan sahur.” diksi yang sudah hafal diluar kepala, saking seringnya mengumumkan prihal tersebut di depan mereka.

tapi rasanya masih ada yang mengganjal. sontak saya teringat, masih ada sesuatu yang harus saya sampaikan lagi. ya…permasalahan sahur. kerab kali kita melihat atau mungkin kita sendiri pernah melakukannya. entah karena lupa atau bisa jadi karena belum tahu. saat nikmat-nikmatnya menyantap makan sahur, ehh terdengar suara adzan. bukannya menyelesaikan makan dan mulai berpuasa dan menahan, malah tancap gas. makannya dipercepat. alasannya, “kan baru adzan jauh, masjid yang dekat sini belum adzan kok.”

Seharusnya Bagaimana?

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“dan makan dan minumlah kalian hingga jelas atas kalian benang putih dan benang hitam (terbitnya fajar) kemudian sempurnakanlah puasa hingga datang malam.”

imam Nawawi dalam salah satu kitabnya, Majmu’ Syarhul Muhazzab mengatakan, jika seseorang sudah yakin fajar telah terbit (sekarang ditandai dengan adzan) maka hendaknya dia mulai berpuasa. jika masih ada makanan di mulutnya, maka hendaknya dia memuntahkannya. jika dia sengaja menelannya maka status puasanya adalah batal. tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini.

lantas hadist ini bagaimana?

ذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِىَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

“Jika salah seorang di antara kalian mendengar adzan sedangkan piring ada di tangannya, maka janganlah dia meletakkannya hingga dia habiskan isinya.” (HR. Abu Daud)

seakan-akan bertentangan dengan firman Allah ta’ala. sehingga penting bagi kita kita untuk menelisik dan mencari syarh (penjelasan) dan asbabul wurud sebuah hadits. hadits ini menjelaskan bahwasannya pada masa Rasululloh terdapat dua adzan. pertama adalah adzan yang dikumandangkan Bilal yaitu sebelum terbitnya fajar. kedua, adzan yang dikumandangkan sahabat Abdulloh bin Ummi Maktum, ketika sudah terbit fajar. sehingga hadits ini mengisyaratkan, masih diperbolehkan untuk makan dan minum saat mendengar adzan pertama yang dikumandangkan bilal.

sedangkan saat ini tidak ada dua adzan seperti demikian. sehingga tatkala kita mendengar adzan apa hendaknya segera menyempurnakan puasa. jika masih ada makanan dalam mulut, hendaknya dibuang dan dimuntahkan. dan lebih baik lagi jika kita dapat memperkirakan waktu sahur kita agar tidak tergesa-gesa. wallahu a’lam bish shawab.

warnaDuniaSantri✨

semoga bermanfaat, saya ucapkan terima kasih, jazakumulloh khair bagi pembaca yang sudah meluangkan waktu mampir di blog saya🤗

Ummul Kitab dalam Shalat

Pentingnya Al-Fatihah dalam Shalat…

Telah kita ketahui bersama, bahwasannya membaca surat Al-Fatihah dalam shalat hukumnya adalah wajib karena ia merupakan salah satu rukun shalat. Baik dalam shalat fardu dan shalat sunnah. Dalam sebuah hadits syarif Rasullah bersabda

لا صلاة لمن لا لم يقرأ بفاتحة الكتاب

tidaklah sah shalat seseorang yang tidak membaca pembuka kitab (surat Al-Fatihah).”

Hadits ini merupakan salah satu dalil yang menunjukkan wajibnya seseorang yang shalat untuk membaca shalat Al-Fatihah. Hingga Rasulullah katakana tidaklah sah status shalatnya jika meninggalkan Al-Fatihah. Dan di dalam riwayat lain,

“Al-Fatihah adalah pengganti dari ayat Al-Qur’an yang lain, namun ayat Al-Qur;an yang lain tidak dapat menjadi pengganti dari surat Al-Fatihah.” HR. Hakim.

Di dalam banyak nash pula, kita akan menjumpai banyak istilah lain yang digunakan untuk menyebut surat Al-Fatihah. Di antaranya ummul kitab, ummul Qur’an, Fatihatul Kitab, Sab’u Matsani (7 ayat yang sering di ulang-ulang).

Imam Taqiyuddin menyebutkan dalam kitabnya yang cukup masyhur di kalangan madzhab Syafi’iyyah, bahwasaanya wajib untuk membaca Al-Fatihah secara sempurna. Yaitu benar-benar memperhatikan tajwid dan tahsinnya, tidak menghilangkan hak dari setiap huruf yang ada, serta menampakkan dengan jelas tasydidi yang ada. Jika dia menghilangkan sebagian huruf, meringankan bacaan beberapa tasydid, atau bahkan mengganti salah satu huruf dengan huruf yang lain, tidak sah bacaan Al-Fatihah begitu juga dengan shalatnya.  Semua hal ini berlaku untuk orang-orang yang mampu membaca Al-Fatihah dengan baik.

Memang tak dapat dipungkiri. Kita akan menemukan beberapa orang yang tidak mampu untuk memenuhi hal-hal tersebut. baik karena faktor usia yang sudah tua dan terlambat dalam mempelajarinya, merasa sulit untuk melafazkan surat Al-Fatihah. Tak jarang pula kita temukan sebagian orang yang tidak hafal surat Al-Fatihah karena faktor pikun dan lain sebagainya. Oleh karena itu akan berlaku atasnya beberapa ketentuan.

Di perbolehkan bagi orang yang memiliki udzur sehingga tidak hafal surat Al-Fatihah, boleh atasnya membaca mushaf tatkala shalat, atau didiktekan oleh orang lain dan dia mengikutinya.

Dan apabila dia benar-benar tidak mampu membaca karena kejahilannya, maka diperbolehkan untuk membaca 7 ayat apa saja yang dia hafal dan tidak boleh menerjemahkannya. Sebagaimana dalam sebuah sabda Rasulullah,

“apabila kamu hafal ayat dalam Al-Qur’an maka bacalah, jika tidak ada maka bertahmidlah, bertahlil, dan bertakbirlah.”

Selain itu ada juga riwayat lain yang menyebutkan, bahwasannya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata, “wahai Rasulullah aku tidak bisa mempelajari Al-Qur’an, maka beritahukan kepadaku sesuatu yang boleh aku baca dari Al-Qur’an”, maka Rasulullah bersabda, “bacalah Subhanallah walhamdulillah wa laailaha illallah wallahu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘Adzim.”  

Maa Sya Allah betapa urgentnya bacaan Al-Fatihah dalam shalat, sehingga kita diperintahkan untuk benar-benar serius mempelajari dan melafazkannya. Kendati demikian, syari’at islam tak pernah melupakan sebuah kemudahan dalam pelaksanaan syara’ sehingga memberikan solusi bagi setiap kesulitan yang dihadapi. Sebagaimana sebuah kaidah fiqhiyyah, “apabila sebuah perkara sempit, makai a akan meluas.”… sungguh islam ini indah dan mudah bagi mereka yang ingin membuka mata….wallahu a’lam bis shawab…..