Menuju Bulan Mulia

@radhiyatunnisa

Maa sya Allah benar-benar tak terasa sekarang kita berada di penghujung bulan sya’ban. Setelahnya ada bualan mulia bagi kita kaum muslimin. Sebaik-baik bulan yang Allah katakana lebih baik dari pada 1000 bulan. Bulan yang menyediakan banyak sekali fadhilah dan pahala bagi mereka yang benar-benar memaksimalkan diri menjalankan ibadah di dalamnya. Ya, itulah bulan suci Ramadhan. Jika kita umpakan, bulan ini ibarat pusat perbelanjaan yang menyediakan diskon besar-besaran bagi para pembeli. siapa yang membawa uang atau bekal banyak tentunya dia akan pulang dengan banyak barang belian, namun jika uang yang dibawa pas-pasan ya tentunya hasilnyapun pas-pasan pula. Semua tergantung bekal kita. Tentu kita ingin menjadi seperti pembeli yang pertamakan?

Berbicara tentang bekal menyambut bulan suci Ramadhan tentunya menjadi pembahasan yang sangat taka sing di telinga kita karena setiap tahun materi-materi demikian kerab kita dengar di berbagai kajian dan lain sebagainya. Tinggal bagaimana aplikasinya, betul tidak. Apalah arti sebuah ilmu yang kita miliki namun tanpa pengamalan.

Ada tiga hal yang ingin saya share kepada teman-teman sekalian. Ilmu ini saya dapatkan dari salah satu ceramah seorang ustadz pada bulan Ramadhan tahun 2017.

Yang pertama adalah memperbanyak istighfar dan taubat sebelum memasuki bulan Ramadhan. Kenapa? Agar kita dapat merasakan betapa nikmatnya ibadah dan ketaatan yang kita kerjakan di bulan Ramadhan nantinya. Imam asyinqiti mengatakan bahwa dosa dan maksiat merupakan penghalang kenikmatan ibadah. Sehingga dengan banyak bertaubat dan beristighfar semangat kita untuk beribadah tidak hanya berapi-api di hari pertama dan kedua Ramadhan namun bisa konsisten hingga akhir.

Kedua adalah berdoa untuk disampaikan kepada bulan Ramadhan. Ajal seseorang tidak ada yang tahu. Bisa saja maut yang ditakdirkan Allah ta’ala duluan dari pada bertemu Ramadhan. Dalam sebuah Riwayat hadits disebutkan sebuah do’a yang dilazimi para Rasulullah dan para sahabat agar disampaikan kepada bulan Ramadhan,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Allahumma baarik lanaa fii Rajab wa Sya’ban wa ballignaa Ramadhan”, Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.”

Dan jangan lupa pasang niat dan Azzam yang kuat untuk memaksimalkan diri dalam bulan Ramadhan.

Dan yang terakhir adalah mempelajari ilmu fikih seputar Ramadhan. Pahami dan dalami betul fikih shiyam karena amalan kita benar-benar amal yang didasari ilmu dan agar tidak terulang terus pertanyaan-pertanyaan seputar puasa Ramadhan padahal para ulama telah panjang lebar membahas dan menyampaikannya setiap tahun. Hukum Menggunakan obat tetes mata  ketika puasa Ramadhan, berapa kadar zakat fitrah, dan fikih shiyam lainnya. wallahu a’lam bish shawab…

Semoga Allah menjadikan kita di antara hamba-hambanya yang lulus dengan nilai sempurna di sisi-Nya dalam madrasah Ramadhan ini… aamiiin

Semoga bermanfaat untuk diri saya dan para pembaca sekalian…

Tak Perlu Berlarut

@radhiyatunnisa

wajar saja…

karena itulah yang dinamakan kehidupan

akan selalu hadir berbagai pilihan

ada tawa sampai tangisan yang menghiasi perasan

tingga bagaimana diri menjalankan

jangan lupa ambil pelajaran dari setiap tahapan

#selamatBertumbuh

Dimanapun kaki berpijak, Tebarlah kebaikan!

@radhiyatunnisa

Ada sebuah pesan dari salah seorang mu’allim saya di masa SMA. Beliau mengatakan “berbuat baiklah tanpa harus memandang keburukan ornag lain.”

Kalimat sederhana memang, namun pengamalannya begitu berat. Betapa banyak manusia yang berbuat baik kerena kebaikan yang telah dilakukan seseorang kepadanya, dalam artian lain ‘membalas’. “untuk apa baik sama dia, toh sikapnya saja begitu”.

Tenang nak, lanjut beliau. Alloh ta’ala tak pernah keliru dan salah dalam menetapkan balasan kebaikan. Apa kamu tidak pernah berpikir dengan melakukan kebaikan kepada orang lain akan menjadi pelembut bagi dirinya?

Dimanapun kakimu berpijak, lakukan dan tebarkan kebaikan apapun yang kamu mampu. Karena sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat bagi orang lain.

“If’al maa syi’ta liana kama tadinu tudanu, wa kama tujazi tujaza.”

Lakukan apapun yang kamu ingin, karena setiap apa yang kamu lakukan akan mendapat balasan…

#Selamat menebar KEBAIKAN

🚦Terjeda Lama…🎞

assalamu’alaikum sobat setia wordpress ini, semoga limpahan ridha dan rahmat Alloh ta’ala tak pernah luput dari setiap pribadi. aamiin…

just a information for all…

untuk beberapa waktu ke depan mungkin saya akan lebih jarang upload tulisan di sini karena beberapa kesibukan study akhir saya… 😊😊

tapi saya akan mengusahakan untuk tetap bisa berbagi lewat tulisan-tulisan sederhana saya seperti biasanya… mohon do’anya ya teman-teman sekalian, semoga setiap halnya dimudahkan dan dilancarkan🤗

di tulisan kali ini saya ingin menyampaikan sedikit quotes dari sabda sang Rasul yang berbunyi,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.”

hadits yang kerab kali kita dengar dimana-mana, namun belum bisa menjadi bahan intropeksi diri kita…

seletih apapun perjuangan yang kita jalani namun jikalau pondasi yang telah kita susun di awal keliru maka tentu semuanya tak akan berarti apa-apa…

teman-temanku…

jika sekolah, kuliah, belajar hanya berlabuh pada jabatan, dan ketenaran

kita tak ada bedanya dengan para penyeru kebathilan.

jika menuntut ilmu hanya agar mendapat pekerjaan dan menghasilkan banyak uang untuk makan, tak ada bedanya kita dengan monyet 😊😊 (dari buku “jangan kalah sama monyet” karya Dr. Adian Husaini)

selamat bertumbuh…

salam literasi…

Ilmu dan Maksiat

@radhiyatunnisa

2 perkara yang tidak akan bertemu dalam satu labuhan

Alhamdulillahirabbil ‘alamin… kata yang lazim bagi setiap muslim mengucapkannya sebagai bentuk syukur kepada Sang Maha Sempurna, Rabb yang tak pernah lengah atas segala pergerakan di alam semesta. Karena nikmat besar yang mustahil dapat terhitung, indahnya islam dan manisnya iman masih kokoh tertancap dalam setiap diri. Semoga nikmat ini Allah abadikan hingga akhir hayat menjemput.

Takkan sempurna iman kita kepada Allah kecuali diiringi dengan keimanan kita kepada sang Teladan sepanjang masa, Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Atas perjuangan harta dan jiwanyalah manusia dibawa dari masa yang begitu gelap gulita kepada cahaya islam yang penuh dengan ilmu.

Para Pembaca Blog Tinta.Pena.Santri yang berbahagia

Ingin berbagi setitik Mutiara nasihat dari luasnya Samudra ilmu dan wawasan. Harapannya bisa menjadi pengingat diri saya pribadi dan siapapun yang mau mengambil ibrah.

Berbicara dunia pesantren, tentu akan banyak sekali warna-warni kisah kehidupan yang dialami oleh penghuninya berjuluk ‘santri’. Hampir Sembilan tahun mengenyam Pendidikan di sana mengantarkan diri saya untuk lebih sering bermuhasabah diri mengenai pencapaian yang selama ini ditempuh. Perubahan karakter dan kepribadian yang seharusnya semakin dewasa, mandiri, qana’ah (menerima apa adanya) dan simpati dan peka yang tinggi terhadap sesama. Termasuk pengamalan ilmu-ilmu yang telah dipelajari untuk diri sendiri serta orang lain. Bukankah semakin bertambahnya ilmu seseorang maka dia akan semakin merasa ‘Khasyah’ kepada Allah? Akan semakin tunduk dan taat atas setiap perintah sang Khaliq.

Hingga saya pernah berada disuatu waktu obrolan bersama seorang teman karib di pesantren. Obrolan seputar keseharian menggiring kami ke sebuah tema yang akhirnya menyadarkan diri. “pernah gak sih berfikir tentang apa yang kita dapat selama ini? bertahun-tahun menuntut ilmu, merantau jauh meninggalkan orang tua dan keluarga, belajar ilmu-ilmu syar’I setiap hari tapi hatinya kerab kali merasa gersang tak tersirami dan redup tak terterangi. Bahkan ketaatan dan ibadah yang seharusnya meningkat karena pemahaman ilmu dan fadhilahnya menjadi ibadah yang biasa-biasa saja.”

Bukannya menjawab dengan ungkapan nasihat hati saya keburu menggetar. Astaghfirullah. Ternyata apa yang disampaikan teman tersebut menjadi muhasabah saya ketika. Betul sekali. Kebarakahan ilmu yang belum bisa diraih. Ya Allah, aku tersadar dalam diam seribu bahasa. Dalam kesendirian aku merenung dan berfikir. Lantas apa yang lebih penting bagi thalibul ‘ilmi selain barakah ilmu yang akan menerangi hati dari kegersangan? Tak sadar tenyata butiran air mata itu jatuh. Merasa sangat malu pada Sang Pemilik Ilmu.

Setelah beberapa hari…

Diriku masih dalam kegundahan tak berarah. Aktivitas kujalani dengan tingkat semangat yang menurun. Entah kenapa belum ada pencerahan  yang dapat menstabilkan suasana hati. Sore itu kami berkumpul di mushalla untuk mendengarkan tausyiah salah satu ustadzah seperti biasa. Dengan keingian dan ghirah yang harus dipaksa untuk berpacu aku coba untuk mengatur diri. Bismillah, setiap untaian kata yang disampaikan kuhayati betul. Harapannya bisa menjadi pembangkit diri.

“anak-anakku sekalian, ustadzah pesankan satu hal yang sangat penting bagi kalian para pemburu warisan Nabi. Bekal yang harus kalian genggam dengan sekuat mungkin. Ketahuilah nak, bahwa ilmu itu adalah cahaya, warisan baginda yang agung. Senjata seorang muslim dalam beramal dan berbicara. Karena mulianya ilmu tersebut, tidak semua hati dapat menerima kehadirannya. Untuk itu silahkan yang pertama kali kalian lakukan adalah mensucikan hati dari segala maksiat. Sebab maksiat dan ilmu adalah musuh yang tak akan pernah bertemu dalam satu labuhan. Sesungguhnya pelaku maksiat tidak akan merasa kesegaran dan penerangan dari ilmu yang ia dapat jika hatinya masih penuh dengan nuktah hitam. Benar sekali nasihat yang disampaikan Imam Malik kepada muridnya Imam Syafi’I

sungguh aku melihat Allah telah meletakkan cahaya dalam hatim, karena itu jangan padamkan ia dengan kegelapan maksiat”

Degg…terjawab sudah apa yang selama ini mengganjal. tersadar, dan memahami apa yang seharusnya aku lakukan… Allohumma inna na’udzubika min nuqthatil ma’siah fii qulubinaa.”

Semoga bermanfaat…

UkhtiFillah

Radhiyah_ElMumtazah

Kecintaan kepada sang Rasul

@radhiyatunnisa           

Sungguh tidak akan sempurna keimanan kita kepada Allah ta’ala kecuali dengan dibarengi kecintaan kita kepada Rasulullah. Mencintai beliau merupakan konsekuensi dari keimanan kita dan bukti keislaman kita. Mencintai, mengagungkan, membenarkan, dan mengikuti ajaran beliau merupakan kelaziman bagi kita. Beliaulah utusan Allah yang dibebankan amanah risalah kepada umat manusia. Sungguh perjuangan besar beliau takkan dapat terbayangkan. Bukan hanya mempertaruhkan harta, namun jiwa raga beliau korbankan tatkala mendakwahkan tauhid di muka bumi. Kisah perjuangan beliau merupakan tapak tilas sejarah yang begitu berharga. Apakah pantas ada manusia lain yang berhak akan kecintaan hakiki kita kecuali beliau.

terdapat dalam kisah ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, yaitu sebuah hadits dari Sahabat ‘Abdullah bin Hisyam Radhiyallahu anhu, ia berkata:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ آخِدٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ. فَقَالَ لَهُ عَمَرُ: فَإِنَّهُ اْلآنَ، وَاللهِ، َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اْلآنَ يَا عُمَرُ. “Kami mengiringi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menggandeng tangan ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu. Kemudian ‘Umar berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Wahai Rasulullah, sungguh engkau sangat aku cintai melebihi apa pun selain diriku.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi dirimu.’ Lalu ‘Umar berkata kepada beliau: ‘Sungguh sekaranglah saatnya, demi Allah, engkau sangat aku cintai melebihi diriku.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sekarang (engkau benar), wahai ‘Umar.’”
 mencintai beliau berarti mencintai pula orang-orang yang mencintai beliau dan membenci setiap orang yang membenci beliau.

Menghina dan menjelekkan Rasulullah bukan merupakan perkara sederhana. Istihza’ bisa menyebabkan seseorang kufur dan keluar dari islam.

Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: ‘Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)’. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja’. Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…”

Karena pada hakikatnya menghina Rasulullah sama saja dengan menghina Allah dan agama islam. Semoga Allah senantiasa menerangi hati kita dengan cahaya hidayah yang menunjukkan diri kepada kebenaran.

Memfokuskan Diri

jika berbicara mengenai kegagalan hidup yang kerab melanda di tengah perjalanan, maka ada salah satu faktor besar yang menjadi alasannya.

“TIDAK FOKUS”

ya..kerab kali kita tidak memfokuskan dan mengoptimalkan banyak hal yang sebenarnya dari sanalah gerbang awal keberhasilan kita nantinya. setengah hati dalam menjalankannya sehingga hasilnya tak pernah menumbuhkan senyuman di bibir melainkan keluhan dan celaan dari diri.

jika punya sebuah target dan tujuan, coba kita belajar dari singa. kok lucu ya belajar dari hewan.

ini bukan sesuatu yang tidak mungkin…

jika nampak mangsa di depan matanya, adapun godaan dan gangguan yang terjadi takkan menghilangkan fokusnya pada si mangsa. terus maju, mendekat, lari, dan akhirnya….

taaap, mangsa itu telah kandas….

selamatMenjalaniHari

💦TERTIPU KATA CINTA💖

@radhiyatunnisa

Lagi-lagi dia datang ibarat kado terindah yang kulihat tepat di depan mata

Menenggelamkan diri bersama sejuta kesenangan yang menghampiri jiwa

Iya…bahagia tiada tara

Itulah rasa yang tak akan mampu ku uraikan dengan ribuan kata

Walau kau mampu menghadirkan berlembar-lembar kertas dan pena

Tetap saja,

Definisi dan maknanya terlalu panjang dan lebar tuk kutulis dengan tinta

Apalagi tuk ku ucapkan dengan lisan…sangat letih sekali rasanya

Namun kau tahu 

Waktu yang berputar dengan segala episode kehidupan kita

Memberiku isyarat dan peringatan tentang aku dan dia

Bahwa aku sedang tertipu dan jauh terbawa

Aku tertipu kata cinta

Kata yang terasa manis di bibir dan indah di pandang mata

Ohh ya Alloh

Aku memohon maaf dan ampunan dari Engkau sang Petunjuk jiwa

Aku terlalu berharap pada makhluk yang tak berarti apa-apa

Aku menyadari, diri ini hanyalah sosok yang belum bisa mengendalikan nafsu dengan sempurna

Ya Rabb… dengan linangan air mata

Lagi lagi aku mengakui setiap alpa…

CORONA?? TINGKATKAN IMAN DAN IMUN!🔑

Sesuatu yang sangaat kecil namun berakibat sesuatu yang sangat fatal dan besar. Ya… sejak bulan februari 2020 indonesia digemparkan dengan sebuah penyebaran virus yang awalnya berasal dari negara china. Dan lambat laun virus itu menyebar ke berbagai negara termasuk Indonesia. Bahkan kini pemerintah telah menetapkan bahwa virus tersebut telah bersifat pandemi.

Covid-19 atau yang kerab disebut dengan virus corona. Tak pandang usia virus ini dapat menimpa siapa saja. Hingga hari ini berita yang saya baca, Indonesia telah mencapai lebih kurang 100 lebih masyarakat yang positif terjangkit virus ini. berbagai kebijakan ditetapkan untuk mengantisifasi penyebaran virus ini. saya yang berada di daerah solo sendiri, mendapat kebijakan untuk karantina mandiri di asrama dan tidak keluar selama kurang lebih dua minggu. Kegiatan belajar mengajar untuk sementara waktu fakum. Dan tempat-tempat umum ditutup. Karena memang di sini virus corona sudah menjangkiti beberapa warga.

Mengerikan…sayapun merasakan hal yang sama. Saya kira manusiawi merasa kekhawatiran atas hal yang kini kita hadapi. Namun sebagai seorang muslim kita jelas harus yakin bahwa apapun yang terjadi di muka bumi ini semua adalah atas kehendak sang Khaliq. Allah ta’ala sudah mengatur semuanya, tidak ada yang tak mungkin jika Allah telah menghendaki maka akan terjadi seketika. Sehingga kita tidak akan merasakan ketakutan yang luar biasa, karena kita begitu yakin bahwa ini semua atas qadarullah.

إذا شاء كان وإذا لم يشاء لم يكن

Kita punya Allah tempat memohon segala sesuatu. Tempat perlindungan dari segala macam bahaya yang mengancam. Gunakan senjata ampuh kita sebagai seorang muslim. DO’A.. dalam sebuah riwayat disebutkan sebuah doa agar terhindar dari penyakit berbahaya:

                اللهمّ إنّا نعوذبك من البرص و الجنون والجذّام ومن سيئ الأسقام

“ya Allah kami berlindung kepada-Mu dari penyakit kulit, gila, kusta, dan penyakit-penyakit yang buruk (berbahaya)”.

Tingkatkan amal shalih dan ibadah kita kepada Allah. Karena semua hal ini adalah adalah salah satu sebab Allah turunkan rahmat dan lindungan-Nya kepada kita.

Selain itu kita juga harus memperhatikan jaasmani. Imunitas dan kekebalan tubuh kita. Bagaimana tubuh kita hanya kitalah yang tahu dan paham. Makanlah makanan yang halal, thayyib, dan mengandung banyak zat peningkat imunitas tubuh, terlebih pada rimpang atau tumbuhan rempah. Kembalilah kea lam dan konsumsi makanan yang fresh agar tubuh kita dapat terbentengi dari virus jahat ini.

Intinya tingkatkan IMAN DAN IMUN….🙂

Pesan hati untuk para calon pembesar🏆

Oleh : luthfiyatusy syita’

Mahasiswa, mahasiwi. Sebutan bagi seseorang yang tengah menjalani pndidikan tingkat akhir yang paling tinggi setelah lulus dari bangku sekolah mengengah atas. Ya…kurang lebih begitulah persepsi dasarnya. Setiap orang mungkin memiliki persepsi yang berbeda-beda, tinggal bagaimana setiap individu memandang. Anda termasuk salah seorang mahsiswa atau mahasisiwi? Jika iya, saya ingin “sharing” dengan kawan-kawan semua, para calon pemimpin besar yang memiliki peran luar biasa, dalam perjuangan dien, ummat, serta negara tempat kita bernaung ini. Sebagai seorang mahasiswa pastilah kita sudah paham betul bagaiman peran yang harus kita jalani dalam menjalani study pendidikan ini. Banyak tuntutan yang harus kita sanggupi. Kesadaran yang dibangun diawal, bahwasannya kita bukanlah siswa SMA lagi yang sebagian besar hanya mengikuti aliran pembelajaran yang di berikan di sekolah, membetulkan setiap apa yang disampaikan tanpa berpikir mengenai argumen dalam diri dan kebenaran akan pertanyataan. Pokoknya papun yang disampaikan yah, it’s right.

Bukan….jika dulu memang benar begitu, sekarang bukan saatnya mempertahankan keadaan yang seperti itu. Tapi perubahan yang akan muncul saat ini. Saya dituntut, anda dituntut, dan kita bersama dituntut untuk selalu berpikir skeptis, analisis, dan kritis. Pola berpikir kini sudah meluas, bagaimana kita haus pandai memandang realita dan permasalahan yang kongkrit terjadi. Selalu siap untuk menyampaikan argumen yang kita miliki, menganalisi setiap masalah masalah yang akan di hadapi dalam dunia pendidikan mahasiswa. Tampil dengan bekal ilmu pengetahuan yang dimiliki. Setiap kita punya potensi, tinggal bagaimana kita mengolahnya.

Para calon pembesar…..

Sekali lagi, setiap kita punya tugas besar. Setelah semua ini kita akan terjun dan berlabuh dalam sebuah wadah yang lebih besar dan lebih menantang dari pada dunia perkampusan. Kita akan menghadapi banyak rintanagan terjal. Permasalahan umat, umat menunggu lahirnya para generasi hebat. Para akademisi, para calon-calon sarjana yang akan berperang dengan segudang ilmu, skill, dan talent. Sekarang coba untuk berpikir realistis, lihat semua realita yang ada di depan mata. Gimana berantakan dan carut-marutnya negara ini. sisi perpolitikan, ekonomi, sumber daya alam, sumber daya manusia, dan yang paling penting adalah ghazwatul fikr yang sudah meruak ke dalam kehidupan manusia. Jangan kita pikir doktri-doktrin pemikiran barat itu sesuatu yang microable, sekulerisme, liberalisme, dan lainnya. serta seabrek permasalahan besar lainnya. Pastinya kita tidak akan diam saja kan? Untuk saat ini bukan diam, tapi sedang dalam tahap persiapan, yah….saya yakin.

Jangan lupa untuk selalu perkuat niat dan permantap hati. Karena tantangan zaman akan semakin berat. Kesungguhan dalam meniti tujuan, lebih di pertangguhkan. Dan yang paling menjadi pondasi dari segalanya adalah bersandar kepada yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, aelalu libatkan Alloh dalam hal apapun. Mustahil akan tercapai tanpa Alloh.

Sobat, terakhir…. Saya hanya ingin menyampaikan peasan moril singkat, sederhana. Kalau kamu sekarang dalam keadaan tertidur, bangunlah dari pejaman mata yang hanya akan berakhir penyesalan. Lihat ke depan ada gerbang peluang yang terbuka lebar, kemudian lihat lagi ke depan ada pintu yang di dalamnya banyak orang yang MENUNGGU. Lihat lagi ke depan, ada ruangan yang penuh kebahagiaan, dan jika kamu melewati semua itu, kamu akan berakhir di sini.

Salamnakcampus……