Bukan Sekedar Pintar

@radhiyatunnisa

Alhamdulillah, setelah beberapa bulan fakum nyamperin blog ini karena sibuk skripsian, sekarang bisa jumpa dan nulis lagi.

Apa kabar sobat wordpress? Semoga senantiasa dalam kondisi Bahagia ya…

Mau bahas tema yang tadi malam disampaikan oleh salah seorang ustadzah, tentang kebarakahan ilmu.

Banyak menemukan orang  cerdas dan pintar?? Tentu jawabannya iya. Namun menemukan orang yang barakah ilmunya sangat sedikit. Wajar saja jika menemukan orang yang cerdas namun pendusta. Pintar namun pacaran. Tak ada manfaat dan barakah dalam ilmu yang dia tempuh selama ini. kita bisa belajar dari qulaimat seorang ulama salaf

حياة العلم بالمذكرة

وبركته بالحكمة

ونفعه برضا الشيوخ

“hidupnya ilmu itu dengan adanya mudzakarah (pengulangan), keberkahannya dari hikmah, dan bermanfaatnya ilmu itu dengan ridha para guru.”

Sobat…

Sering kita melupakan hal itu. Ridha para guru. Jika hingga kini ridha tersebut belum terasa ada dalam diri mari cari, karena tidak ada kata terlambat dalam sebuah kebaikan. Yang pernah menggerutu dan berbohong kepada mereka. Minta ridhanya sekarang. Jangan sampai perjuangan yang kita tempuh selama ini, lenyap begitu saja hanya karena satu hal dalam diri. Karena sekedar pintar saja tidak cukup. Islam butuh generasi ‘alim lagi muttaqi, ‘alim lagi mu’addib.

Menuju Bulan Mulia

@radhiyatunnisa

Maa sya Allah benar-benar tak terasa sekarang kita berada di penghujung bulan sya’ban. Setelahnya ada bualan mulia bagi kita kaum muslimin. Sebaik-baik bulan yang Allah katakana lebih baik dari pada 1000 bulan. Bulan yang menyediakan banyak sekali fadhilah dan pahala bagi mereka yang benar-benar memaksimalkan diri menjalankan ibadah di dalamnya. Ya, itulah bulan suci Ramadhan. Jika kita umpakan, bulan ini ibarat pusat perbelanjaan yang menyediakan diskon besar-besaran bagi para pembeli. siapa yang membawa uang atau bekal banyak tentunya dia akan pulang dengan banyak barang belian, namun jika uang yang dibawa pas-pasan ya tentunya hasilnyapun pas-pasan pula. Semua tergantung bekal kita. Tentu kita ingin menjadi seperti pembeli yang pertamakan?

Berbicara tentang bekal menyambut bulan suci Ramadhan tentunya menjadi pembahasan yang sangat taka sing di telinga kita karena setiap tahun materi-materi demikian kerab kita dengar di berbagai kajian dan lain sebagainya. Tinggal bagaimana aplikasinya, betul tidak. Apalah arti sebuah ilmu yang kita miliki namun tanpa pengamalan.

Ada tiga hal yang ingin saya share kepada teman-teman sekalian. Ilmu ini saya dapatkan dari salah satu ceramah seorang ustadz pada bulan Ramadhan tahun 2017.

Yang pertama adalah memperbanyak istighfar dan taubat sebelum memasuki bulan Ramadhan. Kenapa? Agar kita dapat merasakan betapa nikmatnya ibadah dan ketaatan yang kita kerjakan di bulan Ramadhan nantinya. Imam asyinqiti mengatakan bahwa dosa dan maksiat merupakan penghalang kenikmatan ibadah. Sehingga dengan banyak bertaubat dan beristighfar semangat kita untuk beribadah tidak hanya berapi-api di hari pertama dan kedua Ramadhan namun bisa konsisten hingga akhir.

Kedua adalah berdoa untuk disampaikan kepada bulan Ramadhan. Ajal seseorang tidak ada yang tahu. Bisa saja maut yang ditakdirkan Allah ta’ala duluan dari pada bertemu Ramadhan. Dalam sebuah Riwayat hadits disebutkan sebuah do’a yang dilazimi para Rasulullah dan para sahabat agar disampaikan kepada bulan Ramadhan,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Allahumma baarik lanaa fii Rajab wa Sya’ban wa ballignaa Ramadhan”, Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.”

Dan jangan lupa pasang niat dan Azzam yang kuat untuk memaksimalkan diri dalam bulan Ramadhan.

Dan yang terakhir adalah mempelajari ilmu fikih seputar Ramadhan. Pahami dan dalami betul fikih shiyam karena amalan kita benar-benar amal yang didasari ilmu dan agar tidak terulang terus pertanyaan-pertanyaan seputar puasa Ramadhan padahal para ulama telah panjang lebar membahas dan menyampaikannya setiap tahun. Hukum Menggunakan obat tetes mata  ketika puasa Ramadhan, berapa kadar zakat fitrah, dan fikih shiyam lainnya. wallahu a’lam bish shawab…

Semoga Allah menjadikan kita di antara hamba-hambanya yang lulus dengan nilai sempurna di sisi-Nya dalam madrasah Ramadhan ini… aamiiin

Semoga bermanfaat untuk diri saya dan para pembaca sekalian…

Dimanapun kaki berpijak, Tebarlah kebaikan!

@radhiyatunnisa

Ada sebuah pesan dari salah seorang mu’allim saya di masa SMA. Beliau mengatakan “berbuat baiklah tanpa harus memandang keburukan ornag lain.”

Kalimat sederhana memang, namun pengamalannya begitu berat. Betapa banyak manusia yang berbuat baik kerena kebaikan yang telah dilakukan seseorang kepadanya, dalam artian lain ‘membalas’. “untuk apa baik sama dia, toh sikapnya saja begitu”.

Tenang nak, lanjut beliau. Alloh ta’ala tak pernah keliru dan salah dalam menetapkan balasan kebaikan. Apa kamu tidak pernah berpikir dengan melakukan kebaikan kepada orang lain akan menjadi pelembut bagi dirinya?

Dimanapun kakimu berpijak, lakukan dan tebarkan kebaikan apapun yang kamu mampu. Karena sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat bagi orang lain.

“If’al maa syi’ta liana kama tadinu tudanu, wa kama tujazi tujaza.”

Lakukan apapun yang kamu ingin, karena setiap apa yang kamu lakukan akan mendapat balasan…

#Selamat menebar KEBAIKAN

ILMUAN BESAR ISLAM, AL-KHAWARIZMI

@radhiyatunnisa

Sang Perumus Aljabar sekaligus Ahli Kedokteran

Nama dan Kelahirannya

Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin musa al-Khawarizmi. Lahir di daerah bernama Khawarizm, Khurasan pada 232 H/ 780 M. beliau diperkirakan lahir pada masa Khalifah Abasiyah al-Ma’mun al-Mu’tashim dan al-Watsiq yang dikenal sebagai masa keemasaan ilmu pengetahuan. Di negara-negara barat beliau terkenal dengan sebutan al-Ghoritmi, al-Ghorismi, al-Cowarizmi. Keluarganya merupakan keturunan Persia dan menetap di kota khawarizm kemudian pindah ke selatan kota Baghdad. Beliau wafat pada 850 M. 

Karyanya

Karya beliau yang sangat fenomenal dalam bidang matematika al- Jabar wal Muqabalah. Penulisan buku ini berdasarkan permintaan Khalifah al-Ma’mun. buku ini banyak diterjemahkan ke dalam bahasa lain seperti bahasa arab, dan menjadi rujukan utama di universitas matematika sampai abad ke 10. Sedangkan dalam bidang astronomi beliau menulis buku Ma’rifat sa’at al-mashriq fī kull balad danKitab al-Fihris. Selain itu beliau pernah mendapat mandate dari khalifah al-Watsiq untuk mengadakan observasi dan riset terhadap jenazah.

Rihlah ilmiyah dan Gurunya

Al-Khawarizmi pernah mengenyam Pendidikan di sebuah Lembaga bernama Baitul Hikmah yang didirikan oleh Khalifah al-Ma’mun. Lembaga ini berbenntuk seperti perpustakaan dan akademi penelitian. Di sana beliau mempelajari berbagai bidang ilmu seperti matematika, astronomi, sejarah, tgeografi termasuk kedokteran. Salah satuguru beliau yang masyhur adalah  Ibnu Nadhim dan Ibnu al-Qifthi.

🚦Terjeda Lama…🎞

assalamu’alaikum sobat setia wordpress ini, semoga limpahan ridha dan rahmat Alloh ta’ala tak pernah luput dari setiap pribadi. aamiin…

just a information for all…

untuk beberapa waktu ke depan mungkin saya akan lebih jarang upload tulisan di sini karena beberapa kesibukan study akhir saya… 😊😊

tapi saya akan mengusahakan untuk tetap bisa berbagi lewat tulisan-tulisan sederhana saya seperti biasanya… mohon do’anya ya teman-teman sekalian, semoga setiap halnya dimudahkan dan dilancarkan🤗

di tulisan kali ini saya ingin menyampaikan sedikit quotes dari sabda sang Rasul yang berbunyi,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.”

hadits yang kerab kali kita dengar dimana-mana, namun belum bisa menjadi bahan intropeksi diri kita…

seletih apapun perjuangan yang kita jalani namun jikalau pondasi yang telah kita susun di awal keliru maka tentu semuanya tak akan berarti apa-apa…

teman-temanku…

jika sekolah, kuliah, belajar hanya berlabuh pada jabatan, dan ketenaran

kita tak ada bedanya dengan para penyeru kebathilan.

jika menuntut ilmu hanya agar mendapat pekerjaan dan menghasilkan banyak uang untuk makan, tak ada bedanya kita dengan monyet 😊😊 (dari buku “jangan kalah sama monyet” karya Dr. Adian Husaini)

selamat bertumbuh…

salam literasi…

Sang Pejuang Warisan Nabi

“Ketika aku mendengar suatu kalimat yang belum pernah kudengar, maka seluruh anggota badanku merasakan kenikmatan sebagaimana nikmatnya kedua telinga saat mendengarkannya.”(imam Syafi’i)

Berbicara mengenai sebuah perjuangan, maka tidak akan lepas kaitannya dengan segala hal yang tidak mengenakkan, pahit, penuh onak duri, pengorbanan, tetesan keringat dan air mata, tantangan, rintangan, baik jiwa maupun harta. Setiap orang pasti pernah merasakan hidup dengan melakukan suatu perjuangan. Dan tentu saja hal yang diperjuangkan tersebut berbeda-beda setiap masing-masing. Karena dalam meraih sesuatu ada kalanya seseorang tidak langsung dengan mudah mendapat dan meraihnya. Ada kalanya dia harus mengerahkan segala hal yang dia mampu untuk bisa mendapatnya. Salah satunya adalah perjuangan seseorang dalam mencari ilmu.

Mencari ilmu bukanlah suatu perkara yang mudah. Apalagi pada zaman dahulu, yaitu pada masa Rasulullah, para sahabat, tabi’in, dan para ulama. Jika kita menela’ah kembali sejarah islam, maka kita akan mendapatkan kisah hidup yang begitu menginspirasi dan bisa kita jadikan contoh serta teladan. Bagaimana para ulama zaman dahulu berjuang demi mendapatkan sepotong hadits Rasulullah, berhari-hari menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki, ada yang rela menjual baju, atau bahkan atap rumah sebagai bentuk pengorbanan mereka. Kisah-kisah perjalan hidup mereka tidak akan lekang oleh zaman, rasanya mustahil dapat melupakan sejarah hidup mereka yang memberikan manfaat bagi setiap orang, bukan hanya pada masa mereka hidup tapi hingga masa dimana kita hidup sekarang.

            Siapa yang tak mengenal ulama satu ini, imam Syafi’i. Salah satu ulama cendekiawan dengan segudang ilmu yang hingga saat ini para umat islam merasakannya. Nama lengkapnyanya adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’I bin Saib bin Ubaid bin Abi Yazid bin Hasyim. Nama panggilannya adalah Abu Abdillah. Namun beliau juga sangat terkenal dengan sebutan Syafi’i. imam Syafi’i lahir di sebuah daerah bernama Gaza, pada tahun 150 H, tahun dimana Imam Abu Hanifah wafat. Ayah beliau meninggal dunia pada usia muda, sehingga pada usia balita imam syafi’i adalah seorang anak yatim dalam pengasuhan sang ibu. Karena ibu imam syafi’I mengkhawatirkan pertumbuhanya kelak, maka tatkala menginjak usia dua tahun I    mam syafii  diajak pindah ke kampung halaman ibunya di Makkah, agar beliau dapat tumbuh disana dengan lingkungan yang baik, begitulah harapan mulia sang ibu terhadap anaknya. Menjalani hidup dalam kefakiran tentu bukanlah hal yang mudah bagi seorang wanita yang ditinggal wafat suaminya, terlebih ia harus membesarkan anak seorang diri. Namun karena keshalihan yang telah Allah karuniakan kepada  seorang ibu, beliau berhasil mendidik sang anak hingga sukses menjadi seorang ulama besar dengan segudang ilmu.  

            Berkat kesungguhan sang ibu dalam perjuangan mendidik anaknya. Muhammad bin idris kecil sudah mulai menampakkkan kecerdasan intelektualnya dalam berbagai cabang ilmu. Diantaranya, beliau telah selesai menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Quran pada usia 7 tahun. Selain itu beliau juga menghafalkan kitab hadits yang ditulis oleh Imam Malik. Kecerdasan beliau yang tinggi mulai tampak tatkala beliau menghafal hadits-hadits Nabi dengan cepat. Tatkala para Muhaddits menyampaikan hadits maka beliau akan mendengarkan dengan baik lalu menulisnya di atas kulit atau pelepah. Tak jarang beliau pergi ke kantor-kantor pemerintahan sekitar Makkah untuk mengumpulkan kertas-kertas setengah pakai yang masih layak agar beliau bisa menuliskan materi pelajaran yang telah didapat. Hal tersebut beliau lakukan tanpa rasa malu sedikitpun akan hinaan orang lain atas dirinya. Kondisi semacam ini, tentu bukanlah hal yang mudah bagi seorang anak kecil untuk melaluinya. Namun Muhammad bin idris yakin dengan usaha yang dilakukan serta berbalut doa kepada Sang Khaliq bahwa apa yang beliau perjuangkan saat ini akan mendatangkan hasil yang manis dikemudian hari.  

            Selain itu, diusia beliau yang masih terbilang dini, Muhammad bin Idris memiliki hobi memanah dan bersyair. Dengan kegigihan dan ketekunannya dalam menggeluti hobinya tersebut, beliau menjadi sangat mahir dalam memanah. Suatu ketika, beliau pernah melepaskan sepuluh anak panah, semua mengenai sasaran dan tidak ada satupun yang melesat.

            Dengan kemampuannya dalam menulis dan melantunkan syair-syair arab yang indah, beliau cukup sering berkumpul dengan anak-anak penduduk daerah pendalaman untuk melantunkan syair bersama. Ketika beliau sedang asyik melantunkan syair bersama anak-anak lain, ada seorang laki-laki yang mendekati beliau seraya berkata “apakah kamu sudah merasa cukup dengan kemampuan yang kamu miliki sekarang? Kenapa kamu tidak manfaatkan kecerdasanmu untuk mempelajari ilmu fiqih.  Sesungguhnya umat islam membutuhkan ilmu tersebut.” Mendengar perkataan tersebut, imam syafii kemudian merenung, dan menyadari kebenaran apa yang telah dikatakan oleh lelaki tersebut.

            Menginjak usia dewasa, imam syafii mulai mencoba melakukan perjalanan menuntut ilmu ke berbagai penjuru daerah. Beliau merasa belum cukup atas keilmuaan yang dimilikinya. Dari Mekkah beliau bertolak ke Madinah. Setelah mendengar kabar mengenai pemimpin Madinah yang memiliki keilmuan tinggi, membuat beliau semakin bersemangat menuju ke kota Madinah. Dengan bekal seadanya, dan diiringi Ridha sang ibu, imam syafii berangkat ke Madinah dengan berjalan kaki untuk mengarungi Samudra ilmu. Perjalanan panjang beliau tempuh dengan semangat dan Azzam yang membara di dalam dada yang menunjukkan kehausannya terhadap warisan Nabi, yakni ilmu.   

            Setelah melewati proses panjang akhirnya imam syafii dapat bertemu dengan salah satu imam yang begitu popular, yaitu Imam Malik. Dari beliau imam syafii belajar banyak hal. Beliau mengikuti berbagai majlis bersama sang imam di masjid-masjid. Tatkala sang imam sedang menjelaskan sebuah pelajaran, beliau melihat imam Syafii sedang memainkan tikar setelah membasahinya dengan air liurnya di atas telapak tangannya. Imam Malikpun menjadi bersedih, padahal dalam majlis tersebut imam malik telah menyampaikan empat puluh hadits. Seakan imam Syafi’i tidak menghargai dirinya yang berbicara di depan. Setelah majelis tersebut selesai, barulah sang Imam mencoba untuk mendekati muridnya itu, lantas berkata, “wahai Muhammad bin Idris, kenapa kamu bermain-main ditengah pembacaan hadits Rasulullah?”, dengan wajah merunduk Muhammad bin idris menjawab pertanyaan sang Imam, “wahai guruku, sesungguhnya tadi aku tidak sedang bermain-main, aku hanya menulis dengan ludahku apa yang anda sampaikan agar aku tidak lupa, karena aku adalah seorang anak yang fakir dan tidak memiliki uang untuk membeli kertas dan juga pena.” Imam Malik tertegun kagum mendengar jawaban dari sang murid. Hatinya dibuat luluh oleh sang murid. Datang dari daerah yang jauh dengan tidak membawa bekal yang memadai, namun begitu gigih. Ditengah kondisi hidup yang berat dan begitu sulit, Muhammad bin idris mampu membuktikan dengan Azzam dan semangat yang tinggi serta pengorbanan dan perjuangan berat, bahwa ilmu  bisa diraih oleh siapa saja yang ingin bersungguh-sungguh.

 Kisah perjalanan hidup beliau dalam menuntut ilmu memberikan gambaran nyata kepada kita bagaimana seharusnya kita berjuang untuk mewujudkan suatu hal yang ingin kita capai dalam hidup. Terkadang manusia terlalu mudah untuk mengeluh tatkala baru menghadapi sedikit ujian. Kita melupakan yang Namanya hakikat perjuangan. Ingatlah kawan…seandainya ilmu itu dapat diraih dengan angan-angan belaka saja, maka kita tidak akan mendapatkan orang bodoh di dunia ini.

Sragen, 24 oktober 2019

Identitas penulis:

Nama: Radhiyatun Nisa’

ID Instagram: zahwazahari02@gmail.com

No. WA: 081353249864

Alamat: Ma’had Aly Hidayaturrahman, Pilang, Masaran, Sragen, Jawa Tengah

Ilmu dan Maksiat

@radhiyatunnisa

2 perkara yang tidak akan bertemu dalam satu labuhan

Alhamdulillahirabbil ‘alamin… kata yang lazim bagi setiap muslim mengucapkannya sebagai bentuk syukur kepada Sang Maha Sempurna, Rabb yang tak pernah lengah atas segala pergerakan di alam semesta. Karena nikmat besar yang mustahil dapat terhitung, indahnya islam dan manisnya iman masih kokoh tertancap dalam setiap diri. Semoga nikmat ini Allah abadikan hingga akhir hayat menjemput.

Takkan sempurna iman kita kepada Allah kecuali diiringi dengan keimanan kita kepada sang Teladan sepanjang masa, Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Atas perjuangan harta dan jiwanyalah manusia dibawa dari masa yang begitu gelap gulita kepada cahaya islam yang penuh dengan ilmu.

Para Pembaca Blog Tinta.Pena.Santri yang berbahagia

Ingin berbagi setitik Mutiara nasihat dari luasnya Samudra ilmu dan wawasan. Harapannya bisa menjadi pengingat diri saya pribadi dan siapapun yang mau mengambil ibrah.

Berbicara dunia pesantren, tentu akan banyak sekali warna-warni kisah kehidupan yang dialami oleh penghuninya berjuluk ‘santri’. Hampir Sembilan tahun mengenyam Pendidikan di sana mengantarkan diri saya untuk lebih sering bermuhasabah diri mengenai pencapaian yang selama ini ditempuh. Perubahan karakter dan kepribadian yang seharusnya semakin dewasa, mandiri, qana’ah (menerima apa adanya) dan simpati dan peka yang tinggi terhadap sesama. Termasuk pengamalan ilmu-ilmu yang telah dipelajari untuk diri sendiri serta orang lain. Bukankah semakin bertambahnya ilmu seseorang maka dia akan semakin merasa ‘Khasyah’ kepada Allah? Akan semakin tunduk dan taat atas setiap perintah sang Khaliq.

Hingga saya pernah berada disuatu waktu obrolan bersama seorang teman karib di pesantren. Obrolan seputar keseharian menggiring kami ke sebuah tema yang akhirnya menyadarkan diri. “pernah gak sih berfikir tentang apa yang kita dapat selama ini? bertahun-tahun menuntut ilmu, merantau jauh meninggalkan orang tua dan keluarga, belajar ilmu-ilmu syar’I setiap hari tapi hatinya kerab kali merasa gersang tak tersirami dan redup tak terterangi. Bahkan ketaatan dan ibadah yang seharusnya meningkat karena pemahaman ilmu dan fadhilahnya menjadi ibadah yang biasa-biasa saja.”

Bukannya menjawab dengan ungkapan nasihat hati saya keburu menggetar. Astaghfirullah. Ternyata apa yang disampaikan teman tersebut menjadi muhasabah saya ketika. Betul sekali. Kebarakahan ilmu yang belum bisa diraih. Ya Allah, aku tersadar dalam diam seribu bahasa. Dalam kesendirian aku merenung dan berfikir. Lantas apa yang lebih penting bagi thalibul ‘ilmi selain barakah ilmu yang akan menerangi hati dari kegersangan? Tak sadar tenyata butiran air mata itu jatuh. Merasa sangat malu pada Sang Pemilik Ilmu.

Setelah beberapa hari…

Diriku masih dalam kegundahan tak berarah. Aktivitas kujalani dengan tingkat semangat yang menurun. Entah kenapa belum ada pencerahan  yang dapat menstabilkan suasana hati. Sore itu kami berkumpul di mushalla untuk mendengarkan tausyiah salah satu ustadzah seperti biasa. Dengan keingian dan ghirah yang harus dipaksa untuk berpacu aku coba untuk mengatur diri. Bismillah, setiap untaian kata yang disampaikan kuhayati betul. Harapannya bisa menjadi pembangkit diri.

“anak-anakku sekalian, ustadzah pesankan satu hal yang sangat penting bagi kalian para pemburu warisan Nabi. Bekal yang harus kalian genggam dengan sekuat mungkin. Ketahuilah nak, bahwa ilmu itu adalah cahaya, warisan baginda yang agung. Senjata seorang muslim dalam beramal dan berbicara. Karena mulianya ilmu tersebut, tidak semua hati dapat menerima kehadirannya. Untuk itu silahkan yang pertama kali kalian lakukan adalah mensucikan hati dari segala maksiat. Sebab maksiat dan ilmu adalah musuh yang tak akan pernah bertemu dalam satu labuhan. Sesungguhnya pelaku maksiat tidak akan merasa kesegaran dan penerangan dari ilmu yang ia dapat jika hatinya masih penuh dengan nuktah hitam. Benar sekali nasihat yang disampaikan Imam Malik kepada muridnya Imam Syafi’I

sungguh aku melihat Allah telah meletakkan cahaya dalam hatim, karena itu jangan padamkan ia dengan kegelapan maksiat”

Degg…terjawab sudah apa yang selama ini mengganjal. tersadar, dan memahami apa yang seharusnya aku lakukan… Allohumma inna na’udzubika min nuqthatil ma’siah fii qulubinaa.”

Semoga bermanfaat…

UkhtiFillah

Radhiyah_ElMumtazah

Rahmah El-Yunusiyyah

Ulama Perempuan Dari Tanah Minang

Menjelajah sejarah tanah minang, kita akan dapati banyak peran tokoh-tokoh luar biasa. Siapa yang tak mengenal Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang terkenal dengan panggilan buya hamka? Seorang ulama sekaligus sastrawan yang melahirkan banyak karya-karya fenomenal. Kemudian ada ulama besar Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Agus Salim, Ilyas Yakoub, Muhammad Natsir dan masih banyak lagi tokoh-tokoh pembaharu yang lahir dari tanah minang.

Dan ternyata dibalik semua nama tersebut kita tak dapat melupakan peranan seorang tokoh wanita dalam sejarah Indonesia khususnya Sumatra barat. Jejak perjuangan tokoh wanita ini memberikan banyak pengaruh bagi banyak kalangan. Namanya tak terlalu masyhur dikenal khalayak namun apa yang dia perjuangkan dapat mendunia. Dialah Rahmah el-Yunusiyyah.

Rahmah El-Yunusiyyah lahir di sebuah rumah gadang di jalan lubuk mata kucing pada hari jum’at tanggal 29 desember 1900 M, yaitu bertepatan dengan tanggal 1 Rajab 1318 H. Rahmah adalah anak bungsu dari lima bersaudara dari pasangan Syaih Muhammad Yunus dan Rafi’ah. Ayahnya Syaikh Muhammad Yunus adalah seorang ulama besar pada zamannya. Sedangkan ibundanya Rafi’ah juga bukan orang sembarangan. Dia adalah keturunan ulama asal langkat, Bukit Tinggi, Sumatra Barat dan masih memiliki pertalian darah dengan haji miskin salah seorang tokoh gerakan Paderi. Sedangkan kakaknya yang tertua Zainuddin Labay el-Yunusiyyah adalah seorang pendiri Lembaga Pendidikan bernama Thawalib.

Perjalanan Hidup Rahmah

Ketika ayahanda wafat, ibunya berinisiatif menjadikan murid Syaikh Mahmud Yunus sebagai guru mengaji Rahmah. Sedangkan dua orang kakaknya Zainuddin Labay dan Muhammad Rasyad yang pernah mengenyam Pendidikan di sekolah Belanda (HIS) mengajari Rahmah baca tulis arab dan latin di rumah. Di bawah asuhan ibu dan kedua kakaknya Rahmah tumbuh menjadi anak yang memiliki kemauan keras dan teguh hati. Menginjak usia 10 tahun Rahmah sudah sangat aktif mengikuti berbagai kajian dalam bentuk halaqah di beberapa surau di kota padang panjang. Bahkan dia pernah belajar ilmu fikih kepada H. Abdul Karim Amrullah. Ketika mendaftar di sebuah madrasah Tsanawiyah Rahmah bisa langsung masuk ke kelas 3, Dengan kemampuan ilmiyah yang dia miliki.

Ketika Rahmah berusia enam belas tahun, dia dinikahkan dengan seorang alim yang bernama Bahuddin Lathif dari Sumpur Padang Panjang. Tetapi pernikahan tersebut tidak berlangsung lama, setelah enam tahun bersama keduanya sepakat untuk bercerai di tahun 1922. Sejak saat itu dia tidak pernah menikah lagi, seluruh perhatiannya dia curahkan kepada anak-anak didiknya.  

Do’a dan Impian

Dengan kapasitas ilmiyah yang dia dapatkan dengan berguru ke berbagai ulama dan mengikuti halaqah-halaqah, Rahmah memiliki impian yang sangat besar dalam hidupnya. Yaitu mendirikan sebuah Lembaga Pendidikan untuk para wanita. Dalam sebuah catatan hariannya, Rahmah menulis:

“Ya Allah Ya Rabb, apabila Engkau meridhai cita-cita hamba-Mu untuk mencerdaskan anak bangsaku terutama anak-anak perempuan yang masih jauh tercecer dalam bidang ilmu dan pengetahuan maka mudahkanlah jalannya Ya Rabb.” tampaknya ada satu dalam hidupnya, benak Rahmah dipenuhi dengan pikiran bagaimana membuat anak-anak perempuan memperoleh Pendidikan yang layak, menjadi cerdas dan berkarakter. Pikiran tersebut muncul bukan karena anak-anak perempuan tidak memperoleh Pendidikan. Karena pada masa itu sejumlah sekolah di Minangkabau sudah membuka ruang dan memberikan kesempatan kepada perempuan untuk ikut dalam proses Pendidikan sama dengan laki-laki.

Namun, alasan yang mendorong rahmah untuk mendirikan sekolah khusus perempuan adalah agar perempuan memeperoleh hak dan kesempatan secara penuh untuk menuntut ilmu dengan menciptakan lingkungan belajar dan sistem pendidikan yang khas, dan memungkinkan mengembangkan kapasitas secara optimal, namun tentunya tidak lepas dari fitrah dan kodrat seorang wanita. Rahmah ingin menciptakan lingkungan belajar dan sistem pendidikan yang diperkuat dengan berbagai macam keterampilan yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Berangkat dari impiannya inilah lahir sekolah dirasah lil banat yang berlokasi di sebuah masjid di pasar usang, Padang panjang. Yang didirikan pada tanggal 1 november 1923.

Badai perjuangan Rahmah

Di tengah perjalanan merintis sekolah Dirasah lil banat, rahmah tidak banyak mendapat dukungan dari masyarat sekitar. Mereka tidak yakin dengan kemampuan rahmah, seorang perempuan muslimah dapat menyelenggarakan sebuah pendidikan dengan baik. Tidak sedikit dari mereka yang mencemooh. Tetapi rahmah tetap yakin dengan prinsip hidupnya, bahwa Allah pasti akan menolong siapa saja yang menolong agama-Nya. Kegiatan sekolah tetap berjalan. Hingga pada tahun 1924 sekolah tersebut harus pindah ke sebuah rumah namun masih di daerah yang sama. Disana para siswi sudah mulai mengenal sistem kelas yang dilengkapi dengan bangku, meja, dan papan tulis.

Tahun 1926, kota Padang panjang dilanda gempa bumi. Beberapa bangunan di daerah tersebut menjadi rusak dan runtuh. Tak terkecuali sekolah dirasah lil banat. Sekolah tersebut mengalami rusak barat. Tetapi rahmah tetap tegar. Dia berusaha membangun kembali sekolah tersebut tanpa mendapat mendapat banyak bantuan dari pihak lain. Bersama majlis guru Rahmah mendirikan bangunan sederhana dari bambu, beratap daun rumbia, dan berlantai tanah.

Namun seiring berjalannya waktu, sekolah Rahmah mendapatkan perhatian besar dari para wali muridnya yang merasa simpati akan perjuangannya. Hingga pada tahun 1928 Rahmah berhasil membangun Gedung sekolah permanen.

Dari kisah Rahmah El-Yunusiyyah banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Sebagaimana pepatah orang minang yang berbunyi, Baraja ka nan manang, mancontoh ka nan sudah”. Yang maknanya, Belajar dari mereka yang telah mencapai kesuksesan dan ambil hikmah dari kegagalan orang lain. [RadhiyahEl-Mumtazah].

Kecintaan kepada sang Rasul

@radhiyatunnisa           

Sungguh tidak akan sempurna keimanan kita kepada Allah ta’ala kecuali dengan dibarengi kecintaan kita kepada Rasulullah. Mencintai beliau merupakan konsekuensi dari keimanan kita dan bukti keislaman kita. Mencintai, mengagungkan, membenarkan, dan mengikuti ajaran beliau merupakan kelaziman bagi kita. Beliaulah utusan Allah yang dibebankan amanah risalah kepada umat manusia. Sungguh perjuangan besar beliau takkan dapat terbayangkan. Bukan hanya mempertaruhkan harta, namun jiwa raga beliau korbankan tatkala mendakwahkan tauhid di muka bumi. Kisah perjuangan beliau merupakan tapak tilas sejarah yang begitu berharga. Apakah pantas ada manusia lain yang berhak akan kecintaan hakiki kita kecuali beliau.

terdapat dalam kisah ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, yaitu sebuah hadits dari Sahabat ‘Abdullah bin Hisyam Radhiyallahu anhu, ia berkata:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ آخِدٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ. فَقَالَ لَهُ عَمَرُ: فَإِنَّهُ اْلآنَ، وَاللهِ، َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اْلآنَ يَا عُمَرُ. “Kami mengiringi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menggandeng tangan ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu. Kemudian ‘Umar berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Wahai Rasulullah, sungguh engkau sangat aku cintai melebihi apa pun selain diriku.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi dirimu.’ Lalu ‘Umar berkata kepada beliau: ‘Sungguh sekaranglah saatnya, demi Allah, engkau sangat aku cintai melebihi diriku.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sekarang (engkau benar), wahai ‘Umar.’”
 mencintai beliau berarti mencintai pula orang-orang yang mencintai beliau dan membenci setiap orang yang membenci beliau.

Menghina dan menjelekkan Rasulullah bukan merupakan perkara sederhana. Istihza’ bisa menyebabkan seseorang kufur dan keluar dari islam.

Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: ‘Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)’. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja’. Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…”

Karena pada hakikatnya menghina Rasulullah sama saja dengan menghina Allah dan agama islam. Semoga Allah senantiasa menerangi hati kita dengan cahaya hidayah yang menunjukkan diri kepada kebenaran.